Ketika itu, Yami Yatsuo—si penyihir sekali pakai—masih mondar-mandir di antara para warga Kuroshio yang dirawat di kamp pengungsian terpisah. Ia sibuk membantu para prajurit kerajaan membawakan pasokan obat-obatan dan air bersih. Berkali-kali mengeluh akan kerja fisik yang menguras banyak energi dan stamina tubuhnya.
Tak jauh dari lelaki tersebut, Tuan Putri Via Chrononius Aurelion Elizabeth—yang telah menanggalkan seluruh keanggunan dan gengsi bangsawannya—tampak meringis. Gadis kecil itu bersusah payah mengangkut ember berisi air untuk membasuh luka. Tubuhnya yang mungil jelas terlalu lemah untuk menahan beban yang sebetulnya tergolong ringan. Napas sepasang anggota Ordo Flageon di garis belakang yang demikian sedang terengah-engah. Saat jam istirahat tiba, mereka ambruk di tanah sambil saling menyandarkan punggung, mengeluh tertahan dengan kesadaran yang perlahan mengering.
“B… Beratnya…” Putri Via mengibas-ngibaskan gaunnya yang basah kuyup oleh keringat. Alisnya berkedut jengkel. “… Kalau begini terus… aku bisa mati konyol!”
“Dasar Tuan Putri manja…” Yami Yatsuo bergumam pasrah, menjadikan si gadis mungil sebagai sasaran empuk pelampiasan lelah. “… Pa… Padahal yang kau angkat dari tadi cuma seember air cuci luka. Raja dan Ratu Aurelion itu… ternyata sama sekali tak peduli pada daya tahan putri mereka sendiri, ya? Mengecewakan…”
“W—Woi! Jaga mulutmu, dasar penyihir tak berguna!”
“Haaah?! Gadis yang cuma bisa meringis tanpa kemampuan bertarung sedang menasihatiku?!”
“Diam! Kekuatanku di Ordo ini adalah uang, tahu! Tanpa aku, kalian cuma sekelompok remaja sialan yang tak punya dana untuk bergerak!”
“Kalau begitu, coba kalahkan monster-monster di depan sana dengan tumpukan uangmu itu, Tuan Putri yang kaya raya!”
“Baiklah kalau itu maumu, penyihir pengangguran!”
“Grrrrrr…!”
“Grrrrr…!”
“K… Kalian berdua… tolong hentikan…”
“—MEMANGNYA KENAPA?!”
Seorang prajurit kerajaan yang bergegas melerai pertengkaran dua bocah tersebut tersentak dengan wajah ketakutan. Tubuhnya gemetar saat menenangkan dua anggota Ordo Flageon yang terduduk di atas tanah, perlahan menunjuk satu titik di udara untuk menginformasikan sesuatu.
“Ma… Masalahnya…” Suara sang prajurit tertahan ketika kedua anak itu ikut berpaling. “… Tuan Keita baru saja tiba.”
“Tolong jaga sikap kalian di hadapan pemilik wilayah ini—”
“—Apakah di sini ada bocah bernama Yami Yatsuo?!”
Tanpa salam formalitas atau basa-basi, sosok yang ditunjuk—Kageha Keita sendiri—meluncur turun. Ia dipapah oleh beberapa prajurit bayangan yang melayang di angkasa, disambut dengan tatapan penuh kagum dari warga dan penjaga pemukiman yang bergegas membungkuk dalam-dalam. Sang penguasa Kuroshio tak datang sendirian; ia memboyong rombongan sektor timur yang pakaiannya sudah koyak-koyak sebagai bekas pertempuran.
Tak banyak waktu yang berlalu bagi sang raja untuk menuntaskan apa yang sedang diinginkannya. Berkat petunjuk dari Lucian dan Noelle yang telah pulih, Pangeran Kuroshio akhirnya tahu siapa gerangan penyihir bernama Yami Yatsuo yang ia cari. Pria tersebut bergegas lari menghampiri si bocah sembari menggenggam tabung perak yang berbunyi secara ajaib. Tangannya melambai-lambai memanggil dengan deru napas yang cepat.
Yami Yatsuo dan Via Chrononius saling lempar pandang sebelum menatap Tuan Keita yang kini berlutut di hadapan mereka. “Ja… Jadi…” Penguasa Kuroshio membuka suara dengan dada naik-turun. “… Ka—Kau… yang bernama Yami Yatsuo?”
“Itu aku.” Remaja berambut hitam pendek mengangguk ragu, sepasang mata gelapnya menyipit. “… A… Ada masalah?”
“Amuro-kun.”
“Eh?”
Kageha Keita menyebut nama si penyihir peniru yang kini tengah bertarung mati-matian di wilayah selatan. Mendengar nama itu, Yami dan Via tersentak. Mereka menelan ludah dalam-dalam, bersiap menghadapi kabar buruk apa pun yang akan terucap. Sorot mata pangeran berambut ungu kehitaman itu berkilat serius.
“Amuro-kun…”
“… membutuhkan bantuanmu!”