Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #22

EP 22. ALASAN TANGIS GADIS BONEKA

“Untuk menjadi yang terkuat, kau harus kejam pada siapa pun yang berada di bawahmu, Enma. Ingatlah itu.”

Suara dingin yang demikian menggema di antara lorong-lorong gelap kastil, terdengar begitu mengerikan—terlalu tajam hingga seolah ia dapat menusuk kulit tulang, menciptakan luka-luka tak kasat mata. Intonasinya yang mengintimidasi mengisyaratkan sebuah kekuasaan mutlak—sebuah doktrin absolut yang haram untuk dibantah. Haram dikilah.

Kalimat menakutkan tadi terucap dari bibir seorang wanita muda yang mengenakan gaun hitam bersimbah darah. Rambut hitam keunguannya begitu halus dan indah, tergerai sepunggung hingga menyentuh mata kaki namun sepasang matanya yang kelam membuat siapa pun bergidik ngeri saat bersitatap dengannya.

Dengan dingin, ia menyapu pandangan ke arah pasukan penyihir yang bergelimpangan di sepanjang lorong.

Tangan dan kaki terputus.

Darah menggenang amis.

Raut-raut wajah dipenuhi keputusasaan.

Sementara itu, dari belakang, putrinya yang bersembunyi memeluk erat boneka cokelat beruang besar yang empuk. Tubuh kecilnya gemetar hebat akibat pembantaian yang baru saja berlangsung di depan matanya. Wanita muda itu kembali bersuara. Kali ini, ia menoleh pada si gadis kecil, menatap lamat-lamat sosok yang esok mungkin akan menjadi pewaris jika ia gugur.

Gadis kecil yang penakut memberanikan diri mendongak sedikit. Ia mengamati sang ibu yang berparas elok namun diselimuti bayang-bayang gelap dari tempias cahaya rembulan yang menerobos masuk melalui jendela lebar kastil. Lalu matanya berkaca-kaca.

“Jika kau tidak bersikap kejam, Enma-chan… mereka akan terus melunjak.” Sang ibu memberikan doktrin demi doktrin.

“Mereka akan menyusun rencana busuk jauh-jauh hari.”

“Membuat provokasi.”

“Menanamkan kebencian.”

“Lalu menyergapmu saat kau lengah.”

Tiba-tiba, wanita itu terdiam, kemudian ia merengkuh gadis berambut ungu-hitam ke dalam pelukannya. Sangat erat. Sang wanita muda menangis dalam sunyi.

Genggaman si gadis kecil pada bonekanya terlepas. Matanya yang hampa menatap ke arah jasad ayahnya yang terkulai tak jauh dari sana. Pikirannya yang polos sebagai anak-anak berusaha mencerna apa yang sesungguhnya menimpa keluarga yang disayanginya sejak kecil. Diam-diam, sebuah perasaan benci yang kelam mulai tumbuh di dalam jiwa gadis tersebut. Bagai kobaran api dalam sekam.

“Berjanjilah pada Ibu, Enma…” sang ibu kembali berujar dengan suara patah. Detik berikutnya, gumpalan darah kental termuntah hebat dari mulut wanita tersebut, memuncrat dan membasahi pakaian tidur putih milik si gadis kecil yang termanggu bisu.

Sebuah tombak panjang yang tadi hendak melesak ke tubuhnya kini bersemayam di ulu jantung ibu yang melindungi di detik-detik akhir. Sembari menikmati saat-saat terakhir kehidupannya di dunia, wanita yang sudah di ujung tanduk berbisik memohon dengan linangan air mata deras. Mendekap tubuh putrinya tersayang jauh lebih erat. Membuatnya terpaku mati rasa, merasakan kulit sosok penyayang yang mencintainya bertambah dingin secara berangsur sebagai simbol redupnya nyawa.

 “… Berjanjilah pada Ibu… Enma-chan…”

Lihat selengkapnya