“KYAAA!! APA YANG SEBENARNYA HENDAK KAU LAKUKAN PADAKU, BOCAH MESUM?! LEPASKAN AKU! LEPASKAN AKUU!!”
Sepuluh menit telah berlalu semenjak aku menjalankan rencana penyadaran Mei Ling—yang konon, menurut Ov Vanguard, tengah berada di bawah pengaruh kekuatan kembaran jahatnya.
Mengingat kejadian yang dulu pernah menimpa Yukki-san saat dikendalikan Akame, aku kembali mengandalkan fondasi rasa malu untuk menaklukkan gadis berkimono merah ini.
Berbagai macam cara telah kucoba: mulai dari mencium punggung tangannya, memeluknya erat, hingga mengucapkan kalimat “aku mencintaimu” berulang kali sampai tenggorokanku sendiri tersedak—namun, sayang, tak satu pun yang mempan. Boro-boro tersadar, gadis di hadapan justru makin kuat memberontak. Ia bahkan hampir saja lepas jika aku tidak segera mengambil alih situasi, memperketat kuncian ikatan.
“Astaga, masih gagal juga?” keluhku, tertahan. “Padahal aku sudah mencoba segala cara yang melintas di kepala—kenapa dia tidak takluk juga?”
Ov Vanguard yang kembali tak sabaran mendengus ketus, “Itu karena kau tidak melakukannya dengan sepenuh hati, Amuro-kun.”
Pria itu melangkah maju, menyatukan kedua tangannya di balik punggung seperti seorang professional.
“Seorang wanita memiliki insting perasa yang jauh lebih tajam daripada lelaki. Jika senyuman, perhatian, dan ungkapan cinta yang kau berikan tidak tulus, dia pasti bisa menyadarinya.”
Senyum kecutku mengembang. “Da… Dari mana Ov-san tahu hal-hal seperti itu?”
“Aku ini sudah menikah, tahu.”
“Ah, benar juga!”
“Lepaskan! Lepaskan aku!”
Seperti yang telah berlangsung selama hampir satu jam terakhir, kami berupaya memicu rangsangan emosional untuk membangunkan kesadaran asli Mei Ling secara bertahap. Taktiknya sederhana: jika satu tahap gagal, kami akan beralih ke tahap berikutnya—yang menurut norma sosial tergolong cukup ekstrem dan berbahaya.
Karena strategi [memeluk erat] gagal total, maka seharusnya langkah selanjutnya adalah—
“Cium bibirnya.” Tanpa basa-basi, Pangeran Ov yang selalu ingin segalanya tuntas secepat mungkin memotong gagasanku. “Kita tidak punya waktu lagi.”
“Ta… Tapi, Ov-san!” protesku, sedikit tertahan. Aku mencoba menjelaskan. “Tahapan resmi setelah ini… bukankah seharusnya adalah [menatap mata dari dekat selama satu menit sambil berpegangan tangan]?! Kita tidak boleh melompati tangga hubungan semudah itu—”
“Kau ini bodoh, ya?”
“A… Apa?!”
“Yang namanya hubungan manusia itu…” kalimat Ov Vanguard menggantung. “… sama sekali tidak ada yang bisa ditebak, Bodoh.” Lantas dengan gaya dingin dan elegan, ia membeberkan fakta. “Kau pikir sudah berapa banyak pasangan yang hanya bermodalkan percakapan singkat, lalu mendadak berani mencium pasangannya, hah?! Buka matamu lebar-lebar dan lihatlah dunia, Amuro-kun! Kau bukan bocah lugu tiga belas tahunan lagi!”
“Ja… Jangan bilang Anda sedang menyindirku?!”
Insiden penaklukan Yukki di antara reruntuhan Ibu Kota Optima mendadak terputar kembali dalam potongan memori yang lambat. Berkatnya, aku jadi teringat betapa lembutnya bibir Yukki yang dulu kerasakan begutu kecil, dingin, dan sedikit basah…
Tatapan sepasang mata zamrudnya yang berkilau indah di bawah siraman cahaya bulan…
Serta aroma rambutnya yang semerbak dan menenangkan…
… hingga kemudian pandangan mataku kembali berlabuh pada wajah Mei Ling yang masih kusekap.
Gadis itu melotot murka, merasa telah dilecehkan oleh bocah 13 tahun yang teramat kurang ajar.