“Apakah kalian berdua lapar?”
Mei dan Han hanyalah sepasang anak jalanan yang bertahan hidup dari satu tong sampah ke tong sampah lain di Kota Huanzu, Kerajaan Qiyee. Sebagai pusat perdagangan bebas yang legal dan aman, kerajaan ini memiliki ketimpangan sosial yang tajam, di mana berbagai ras berbaur dan bertukar informasi tanpa kendali yang jelas dari petugas pemerintahan.
Malam itu, perut kedua gadis kecil kurus kosong melompong. Jadi, saat sepasang suami-istri asing menyodorkan sebungkus roti hangat, Mei dan Han melompat dari tikar lusuh mereka, menyambar makanan yang diberikan bagai dua ekor kucing liar yang kelaparan.
Sebagai anak jalanan berpengalaman, mereka tahu betul betapa kejamnya dunia luar. Banyak orang jahat berkeliaran, berpura-pura baik hanya untuk menjebak anak-anak terlantar seperti mereka demi dijual jadi budak atau kelinci percobaan.
Maka tak elak, begitu roti berpindah tangan, kedua gadis cilik itu langsung melesat pergi, meninggalkan sepasang suami-istri di belakang dengan tatapan penuh curiga dan kewaspadaan tinggi, berlari sejauh-jauhnya.
Sebenarnya mudah sekali untuk melupakan apa yang sesungguhnya terjadi pada malam yang dingin tersebut.
Namun, di luar dugaan, wanita yang memberi roti justru tersenyum hangat. Ia melambaikan tangan, membentuk corong dengan kedua telapak tangan di mulut lalu berseru penuh kelembutan, “Kalau kalian lapar lagi!” Katanya. “Datang saja ke sini! Kami akan selalu memberi kalian makan!”
Mei dan Han tak acuh. Mereka saling tatap, yakin bahwa di pertemuan kedua nanti, jebakan yang sebenarnya baru akan dipasang untuk merenggut kebebasan mereka. Tapi anehnya, pada keesokan hari, kedua kaki kecil sepasang adik-kakak tetap melangkah ke tempat yang sama. Di jam dan sudut lokasi yang presisi, mereka menunggu—menanti janji sepasang suami-istri kemarin yang sebetulnya masih mereka curigai.
Hanya butuh waktu lima menit sampai pasangan baik hati itu muncul. Tanpa membuang waktu, sang istri membuka bungkusan makanan yang jauh lebih besar. Ia menggelar tikar yang bersih, mengajak suaminya duduk, lalu melepas jaket serta topi kerja. Dengan sabar, wanita itu menyuapi dua bocah yang belum tersentuh makanan seharian, memiringkan wajahnya dengan manis.
“Ayo buka mulutmu~ Aaaaaa…~”
Lingkungan keras telah menggembleng Mei dan Han untuk tidak mudah percaya pada siapa pun, lebih-lebih orang asing. Namun, demi menyaksikan tatapan penuh kehangatan dari wanita berambut biru di hadapan mereka, benteng pertahanan kedua bocah itu runtuh seketika. Bukannya pasang kuda-kuda untuk menyerang, mereka malah terisak sesungukan. Keduanya patah-patah bergerak mundur, lalu meringkuk memeluk lutut, membenamkan wajah ke paha.
Bola mata mereka berkaca-kaca untuk kemudian menumpahkan air mata.
Sepertinya suatu kenangan yang buruk baru saja menghantam mereka tanpa belas kasih.
“… Mama… Hiks… Mama…!” Mei dengan mata butanya yang tanpa kornea berseru memanggil.
“…Ibu… Kapan Ibu pulang…?!” Han di sebelahnya juga melakukan hal sama.
Sudah jadi rahasia umum di Kerajaan Qiyee bahwa banyak orang tua tak bertanggung jawab yang sengaja membuang anak mereka demi harta, atau sekadar menutupi jejak hubungan terlarang dengan seorang pejabat.
Han dan Mei adalah korban dari dinginnya realitas sosial tersebut.
Mereka telah ditinggalkan oleh ibu yang melahirkan mereka sendirian di antara gundukan sampah. Kemudian, diiringi janji kembali yang palsu, sosok-sosok ibu tak bertanggung jawab itu melengos pergi seolah baru saja membuang beban yang memang seharusnya dibuang di tempatnya.
“Ibu…! Ibu…!”
“Huuuhuhuhuhu…!”
Tak tega melihat penderitaan dua gadis cilik terus berlanjut, sepasang suami-istri yang kasihan saling lempar pandang dan mengangguk mantap. Mereka mengirim kode-kode singkat di balik kedipan mata yang berirama, bertekad membesarkan kedua anak ini dengan peluh mereka sendiri.
Suami-istri itu pun merengkuh tubuh kecil Han dan Mei, berbisik lembut. Mereka berusaha menganggap keduanya sebagai anak sendiri yang dilahirkan melaui darah dan daging mereka. Dengan perlahan, sepasang suami-istri yang memeluk Mei dan Han sekaligus itu berbisik.
“Jangan takut lagi, Anakku…”
Air mata Mei dan Han makin deras mengalir.
“… Karena Ayah dan Ibu kalian…"