“Apakah kita… menang?”
Pertanyaan itu terlepas pelan dari mulut mungil Via Chrononius yang telah melongo tak percaya selama lima menit penuh. Di sisinya, Albert dan Finn—pasukan yang tergolong ‘rentan’ di Ordo Flageon—saling berdesakan, menatap takjub ke arah tempat sebuah kerajaan baru saja lenyap dilalap sihir Yami Yatsuo yang mengerikan, dengan sepasang mata terbelalak.
Di depan mereka, gerbang tebal Kuroshio yang tadi berdiri megah melindungi wilayah perkotaan kini hilang tanpa sisa. Ledakan hitam itu melahap segalanya tanpa pandang bulu ataupun warna. Ia meratakan wilayah kekuasaan bangsawan Kageha yang telah diwariskan secara turun-temurun, menyulapnya menjadi suatu kawah raksasa yang menganga lebar.
Sungguh-sungguh ironis.
Sang Pemimpin, Keita-san, berdiri terpaku. Wajahnya diselimuti kedukaan saat menatap tanah kelahirannya sendiri luluh lantak, mengucapkan salam perpisahan kepada ribuan jasad bayangan yang dikerahkannya sebagai tumbal.
Seperti yang dikatakan Ov Vanguard, pertempuran ini akan berhasil tapi dengan sedikit pengorbanan.
Di sekitar area pengungsian, para warga merayap keluar dari tenda-tenda darurat dengan raut panik dan cemas. Mereka menyaksikan langsung tempat tinggal mereka kini hanya tersisa puing dan debu melalui bahu gemetar. Meski pilu menusuk dada, orang-orang tak bersalah itu berusaha tabah, saling merengkuh dan membagi duka satu sama lain.
[Berat dipikul, ringan dijinjing.]
“Ma… Mama… Rumah kita…”
“… Jangan takut, Hyuga-kun… Yang penting untuk saat ini kau masih bisa selamat bersama mama… mama...—mama akan selalu ada untukmu.”
Sebagai ketua sementara Ordo Flageon, aku masih menggendong tubuh Mei Ling yang cukup berbobot di dada, menatap Kageha Keita dengan perasaan iba. Berdiri di samping sang istri yang menopang lengan kiri, pria pemberani itu berjuang keras menekan rasa sesak yang menggerogoti jiwa. Ia memaksakan senyuman lebar untuk menutupi betapa hancurnya perasaan lelaki itu sendiri.
Aku jadi mencemaskannya.
“Ke… Keita-san…”
Namun, tanpa memedulikan raut khawatir di wajahku, Penguasa Kuroshio di depan justru bergumam penuh penekanan meski pelupuk matanya berkaca-kaca. Ia menggigir bibirnya.
“Kita menang.” Kageha Keita berujar, sedikit agak keras. “Terlepas dari apa pun yang harus hancur, pada akhirnya… kita keluar sebagai pemenangnya, bukan?!”
Pemimpin dari kerajaan yang telah rata dengan tanah itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara. Berdiri di titik bukit timur laut yang sedikit lebih tinggi, Keita-san menegaskan bahwa semua akan baik-baik saja. Ia menghadapkan wajah kepada rakyatnya.
“Sekarang, semuanya… kalian tidak perlu takut karena musuh telah dikalahkaan!!”
Sebagian besar rakyat langsung tersentak.
“Be… Benarkah?!”
“Mama, lihat! Keita-sama sedang memberi pengumuman kepada kita!”
“Apakah yang anda ungkapkan adalah kenyataan, Keita-sama?!”
“Mana mungkin aku berbohong pada kalian, kan?!”
Aku mendengus pelan.
Ya ampun, ya ampun…
Ancaman musuh telah ditumpas habis. Warga sipil berhasil dievakuasi dan diselamatkan. Jika ini bukan kemenangan mutlak… lantas dengan kata apa lagi kondisi ini harus didefinisikan?
“A… Anda benar, Tuan…!” seorang warga di barisan terdepan menyahut dengan suara bergetar. Wajahnya perlahan membiru oleh harapan baru yang menyala. Ia memutar tubuh mengikuti sang pangeran, berseru gembira kepada kawan-kawannya, “Kita… Rakyat Kuroshio… berhasil bertahan dari gempuran monster-monster itu! Kita menang! KITA TELAH MENANG!!”
“BANZAI!”
Sorak-sorai meledak hebat memecah keheningan malam.
“HIDUP KUROSHIO! HIDUP RAJA KEITA!”
“RASAKAN KEKALAHAN KALIAN, MONSTER-MONSTER BRENGSEK!!”
“SYUKURLAH!! KUKIRA KITA SEMUA BAKAL MATI!!”
“Mama, kita sudah aman, kan?”
Di tengah hiruk-pikuk euforia kemenangan, Kageha Keita menyeka sisa air matanya dengan bantuan sang istri. Merasa tugas Ordo Flageon telah tuntas, aku mengode rekan-rekanku untuk pelan-pelan menyelinap mundur—mengingat status kami yang belum diakui sebagai sekutu kerajaan akibat konflik di masa lalu.