Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #142

EP 124. PEMBANTAIAN DI KASTIL KUROSHIO

“Naga Air Lingquan yang hendak kita taklukkan… tiba-tiba tewas? Apa yang sebenarnya terjadi, Keita-san?”

Pertanyaan itu terlempar begitu saja dari bibirku. Malam itu, kami bersembilan sebagai anggota Ordo Flageon diundang dalam jamuan perayaan sederhana di tenda pengungsian Kageha Keita persis di luar batas kota. Obor kecil yang imut menyala redup di tengah ruangan sebagai pencahayaan darurat. Meski terbilang sempit dan harus berdesakan, berbagai hidangan mewah disajikan di depan kami dengan hangat—sebuah ungkapan terima kasih jujur dari rakyat Kuroshio yang baru saja lolos dari jurang kemusnahan, memohon maaf kepada kami atas perlakuan yang sebelumnya tak begitu pantas.

Gemeletuk api berpadu dengan denting samar antara pisau dan garpu. Semilir angin malam sesekali berembus, mengibaskan dinding tenda dan memicu hawa dingin. Dua prajurit berzirah berdiri tegap di dekat pintu masuk untuk berjaga.

Setelah sepuluh menit menikmati hidangan dalam keheningin yang khidmat, Sang Penguasa Kuroshio membuka suara mengenai situasi terkini di lautan lepas Benua Selatan. Ia mengabarkan bahwa monster laut yang tadinya hendak kami buru ternyata dilaporkan telah mati secara misterius, hanya meninggalkan bangkai dan nama.

Aku sengaja mengulang ucapan penguasa tersebut untuk memastikan apakah aku tak salah dengar. Namun, melihat raut wajahnya yang mantap tanpa keraguan, aku akhirnya bungkam, mencoba menerka kira-kira entitas mengerikan mana yang sanggup menumbangkan naga air yang dimaksud.

Pangeran Lucian sebagai petinggi Ordo Flageon langsung memberikan respons spontan. Jubah kebesaran kerajaan yang dikenakannya sedikit lusuh dan robek di berbagai titik sebagai konsekuensi pertempuran.

“Bukankah itu justru kabar baik?” Ia bercetus, santai. Salah satu kakinya menindih yang lain di atas kursi kayu darurat tak begitu empuk, mendengus. “Kita tidak perlu repot-repot melakukan dua tugas berat sekaligus hanya untuk menyeberang ke Benua Terlarang Avelorn, bukan? Menurutku pribadi, ini adalah perkembangan dan efisiensi yang bagus.”

“Lucian mungkin benar.” jarang sekali Noelle—si gadis elf—sependapat dengan Pangeran Voltaire yang selalu dibencinya. “Mengingat kita tidak pernah tahu kapan Malaikat Hitam akan kembali bangkit dan menyerang, sebagai pasukan khusus pembasmi, kita memang tidak punya banyak kemewahan waktu. Kita harus lekas-lekas bergerak.”

Putri Via Chrononius menusuk-nusukkan garpu ke atas piring perak yang sudah bersih. Mulut kecilnya menyusun kalimat demi kalimat.

“Tapi… Noelle-chan, Lucian-kun… apa kalian sama sekali tidak merasa ganjil?”

Pertanyaan mengejutkan demikian meluncur dari dirinya

Lucian dan Noelle menyahut serentak.

“E… Eh?”

Bella Isabella yang tengah memangku majikannya meraba lembut rambut sang tuan putri. “Apa maksud anda, Via-sama?”

Via mendongak, matanya menerawang.

“Begini…” Ia membenarkan posisi duduk. “Aku pernah menyaksikan langsung betapa mengerikannya Naga Air Lingquan bertahun-tahun lalu melalui pengalaman personal. Waktu itu, ia menghadang kapal pesiar mewah milik keluarga kami, Aurelion, dengan mulut raksasanya yang siap menelan kami bulat-bulat—monster itu merusak rencana liburan musim panas kami yang telah disusun masak-masak selama seminggu penuh.”

“Puluhan kapal perang angkatan laut memang mengepung dan memberondongnya dengan meriam dan sihir artileri. Namun, bagaimanapun kami berusaha naga air itu sama sekali tak tergores. Sebelum adanya korban berjatuhan lebih jauh, kami pun terpaksa berbalik arah untuk pulang sambil meratapi kekalahan.”

Aku baru saja meneguk minuman bersoda yang disajikan hingga habis tak bersisa. Setelah mengusap sisa hidangan di sudut bibir, aku menangkupkan kedua tangan dan memasang telinga lebih tajam, menyimak diskusi antar-anggota yang kian hangat.

Bola mataku menyipit tajam. “… Jadi?”

Lihat selengkapnya