Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #143

EP 125. Berbicara Dengan Kepala Dingin

“Jadi, pada intinya, karena Voltaire tidak terima dengan kebijakan Kuroshio yang mengenakan pajak jalan setiap kali ada produk impor melintasi wilayahnya, kerajaan itu berusaha menggulingkan pemerintahan keluarga Kageha melalui berbagai cara termasuk membunuh—benarkah begitu, Tuan Keita?”

Setengah jam berlalu untuk sesi pemaparan pihak penggugat, Albert Gradieve, selaku penengah, mencoba merangkum poin-poin krusial yang akan menjadi bahan diskusi di tenda pengungsian.

Lelaki itu berjuang keras untuk bersikap senetral mungkin—meski, walau ini sekadar dugaanku, ia sendiri mungkin berasal dari Kerajaan Voltaire. Hal itu terlihat jelas dari gestur tubuhnya yang gemetar tiap kali Keita-san atau Eva-san melontarkan makian berdarah, nada suaranya berganti sebentar lalu normal.

Kageha Keita menaikkan sebelah kakinya ke atas kursi darurat.

“Kurasa demikian.” Ia meludah kasar ke samping, lalu memijak bekasnya dengan tumit. “Dan, yang membuatku makin mual, sampai detik ini kerajaan sialan itu tidak sudi mengakui perbuatan busuknya. Mereka justru menuduh kami merusak perdamaian di konferensi global, yang mana, akibat tuduhan itu, Kuroshio dicoret dari keanggotaan dewan persatuan, hingga kami terpaksa menjalin aliansi dengan kelompok teroris dan kriminal—salah satunya, Malaikat Hitam.”

GRAB!

Shirayaki Yukki yang tak sanggup menahan gejolak emosi saat mendengar nama organisasi paling ia benci mendadak mengaktifkan sirkuit magis. Beruntung, aku yang duduk tepat di sebelahnya bersikap kooperatif. Dengan sigap kucegat pergerakan gadis berambut biru muda itu dan kubatalkan aktivasi sihirnya secara paksa. Berujar menenangkan.

“Yu… Yukki-san…” panggilku, selembut mungkin. “… Kuharap kau bisa menahan diri untuk saat ini…”

Yukki membuang pandangannya kesal.

“Cih!”

Kageha Keita dan permaisuri tak terlalu terkejut melihat adanya emosi demikian.

Karena alokasi waktu bagi pihak penggugat telah usai, kini giliran Pangeran Lucian yang melontarkan bantahan atas segala tuduhan. Dalam sesi ini, sesuai regulasi diskusi yang disepakati, pihak Kuroshio maupun kami dari Ordo Flageon dilarang menyela atau menambahkan fakta di luar giliran.

Kami mengira, sebagai seorang pangeran yang mewakili kerajaan sihir sebesar Voltaire, Lucian seharusnya lebih dari mampu meluruskan kesalahpahaman dengan diplomatis. Namun, baru di menit pertama ia membuka suara, dari raut wajah yang mendadak mengeras dan memerah, aku menyadari satu hal: bahwa pemuda ini sama sekali bukan tipe pembicara yang tenang seperti Albert maupun Orion Marry yang kukenal.

Pangeran berambut pirang itu justru menanggapi tuduhan dengan amat santai, jika bukan dikatakan ceroboh—tanpa nada bersalah sedikit pun.

Ia berujar, “Kami memang melakukannya, Keita-san, Eva-san.”

Atmosfer tenda yang semula tenang mendadak menjadi dingin membeku, mencekam oleh ancaman pertumpahan darah.

Sepasang suami istri Keita dan Eva mengepalkan kedua tangan benci. Keringat dingin mengalir pelan di pelipis wajah mereka.

Seolah tak puas hanya dengan satu pernyataan destruktif, Pangeran Lucian justru memanaskan situasi. Dengan tawa meremehkan yang sarat provokasi, ia mendongakkan dagu tinggi-tinggi sebagai simbol penghinaan. Lucian melanjutkan ucapan.

“Lantas.” Ungkapnya. “Kalau memang kami yang menghancurkan, mengobrak-abrik, dan mendalangi pembantaian di kastil Kageha Kuroshio beberapa tahun lalu… kalian mau apa, wahai pengungsi yang baru saja hampir musnah jika tidak kami bantu?”

GRAAB!!

Kali ini tak ada seorang pun yang sanggup menghentikan Eva.

Sang permaisuri galak itu melompati meja. Ia melayangkan cengkeraman maut tepat ke leher sang pangeran yang tengah berbicara, lantas, tanpa ragu, wanita itu membanting tubuhnya ke tanah sekuat tenaga. Sepasang mata berbulu tebalnya melotot seolah ia merupakan manifestasi kobaran api dendam yang terendam bertahun-tahun, dan kini meledak tak terkendali.

Seraya menggertakkan gigi bagai pemangsa yang siap mencabik, Eva Garden—yang telah menjadi kawan masa kecil Penguasa Kuroshio dalam jangka waktu yang panjang—meraung murka:

Lihat selengkapnya