Malam itu begitu mengerikan. langit yang hitam seolah berubah senja saking banyaknya api yang melesat bak hujan anak panah yang meledak ketika menghantam tanah. penduduk desa berlarian. menara pengawas di perbatasan roboh. Rumah-rumah terbakar, memanggang penghuni di dalamnya hidup-hidup. Anak kecil menangis. Wanita menjerit. Orang dewasa berhamburan kabur--namun lagi-lagi bola api yang seolah mengejar menghabisi mereka seketika. mencerai-beraikan tubuh mereka bak adonan yang ditumbuk. seluruh desa terbungkus lautan merah terang.
Sambil memegang tanganku, Yui Chiharu, sahabat baikku mengajak kabur bersama ayahnya yang merupakan kepala desa Chiharu sekaligus guru beladiriku sendiri, Homuro Chiharu. Kami bertiga berlarian diantara rumah warga yang ambruk kehilangan fondasi. Menghindari gesit bola api yang melesat membabi-buta. Sampai di perbatasan desa yang telah terbakar sebagian besar pagarnya, memanjat keluar hingga langkah kami tertahan.
Penyihir itu muncul di depan kami.
Pakaiannya gaun merah agak gelap dengan sepatu hak tinggi hitam mengkilap. Kulitnya putih bersih tetapi wajahnya ditutupi topeng kucing putih yang sebenarnya imut. Rambutnya merah diikat ke belakang, sebuah jas hitam membungkus tubuh penyihir tersebut lengkap dengan logo aneh di bahu. Diukir dengan benang putih kontras.
Demi melihatnya menghadang, guru beladiriku Homuro Chiharu menghunus pedangnya, mengaliri dengan sihir api, membuatnya terang benderang tak kalah kuat dari kobaran api yang membungkus desa. memasang kuda-kuda.
"Homuro Chiharu, kan?", dengan nada datar, penyihir itu mengacungkan tangan kanannya. Menyiapkan satu telunjuk yang kapan saja dapat melesatkan serangan sihir api.
Sepertinya wanita ini mengenal kepala desa.
Tak menghiraukan ucapan si penyihir, Homuro-san berseru padaku dan Yui,
"Apa yang kalian pikirkan?! Segera lari!",
Tentu saja kami kebingungan dengan hal itu. Mematung di tempat, untuk kemudian membuat si penyihir melancarkan serangannya, mengirim satu sinar merah bercahaya terang kepada Homuro-san, berniat menghanguskannya sekaligus bersama kami hingga menjadi abu.
Sihir Api: Tebasan Api!
Namun, tak dinyanya, ketika sinar itu hampir menyentuh kami, Homuro-san bergerak cepat mengayunkan pedangnya yang telah dialiri energi sihir, 'memotong' sinar merah kekuningan yang datang, mengadu sihir apinya dengan sihir api si penyihir bertopeng, menyelamatkan kami dari gosong menjadi abu, memerintahkan kami sekali lagi untuk kabur--kali ini lebih keras.
"Cepat! Aku tak bisa menahan orang ini lebih lama lagi!",
Aku akhirnya mengangguk patuh.
Meski kutahu akan berpisah dengan sang guru, Yui Chiharu yang menangis kupaksa beranjak, berlari kedalam hutan secepatnya, sementara pertarungan dua penyihir hebat berlangsung seru dibelakang.
"Ayah! Jangan tinggalkan Yui, ayah!", sambil kupaksa berlari, Yui Chiharu menoleh ke belakang, berusaha melihat ayahnya untuk terakhir kali. Namun, demi melihat si penyihir bertopeng melepaskan ratusan lingkaran sihir di langit, aku berseru,