Mati rasa. Mungkin itulah hal pertama yang kurasakan. Kakiku menyentuh dataran hitam pekat namun aku tak merasakannya. Mataku melihat. Tubuhku utuh. Namun aku tak bernafas. bahkan bila jantungku tak berdetak, aku tidak akan terkejut lagi. Apakah mungkin... Aku mengambang? tidak juga. Aku merasa menemukan pijakan dibawah--hanya saja aku tidak tahu pijakan itu apa. mungkin semacam keramik tanpa warna. Ada gravitasi? entah juga. Sebab kudapati tubuh ini tetap tidak terjatuh walau tak kukendalikan sama sekali.
Tak ada siluet. Tidak ada ufuk. Tidak ada si penyihir bertopeng. Hanya ruangan kosong tanpa cahaya sejauh mata memandang.
Sejenak aku berusaha mereka ulang apa yang terjadi.
Desa yang terbakar. Homuro-san yang gugur. Yui-san yang tewas mengenaskan. Penyihir bertopeng yang hendak mengakhiri nyawaku. dan tiba-tiba...
Aku berada di tempat antah-berantah--
--Astaga, Batinku.
Aku harus segera kembali.
Jika ini adalah alam bawah sadar, berarti serangan mematikan si penyihir topeng sudah setengah jalan untuk menghabisiku di dunia nyata.
Aku harus bangun sekarang.
Tidak ada waktu lagi.
Tapi...Bagaimana caranya?
"Dimana aku?", aku hendak bertanya namun tak ada suara yang keluar.
Sedetik setelah pertanyaan batin itu keluar, telingaku mendadak mendengar suara misterius. Jernih, tegas dan berwibawa. Getarannya memenuhi seisi ruangan, bergema. Kekuatan yang tersembunyi di dalamnya seolah membuat tubuhku merinding. Cukup untuk membuat gentar.
"Sudah bangun?",
Cahaya merekah dimana-mana, ruangan bergerak simetris seolah ia adalah inti dari rubik raksasa yang sedang diputar. dari dinding-dinding ruangan yang tampak dari kejauhan, kuamati bayanganku terpantul sempurna dalam cermin bening yang entah siapa meletakkannya disana.
Masalahnya, cermin itu ada dimana-mana, memenuhi setiap sisi ruangan. Saling memantulkan bayangan satu dengan yang lain hingga jumlahnya tak terhingga. Membuat mataku seketika sakit, nyaris buta dengan adanya cahaya dari segala arah. namun tiba-tiba ia pecah, menimbulkan suara ribut yang khas. Mengacaukan bentuk sempurna simetris ruangan yang kubus dengan enam sisi sama persis. Atap ruangan roboh. Aku pasrah menatap ratusan pecahan kaca yang siap menembus tubuhku mentah-mentah.
Toh, sepertinya aku memang akan mati sekarang.
"Kasihan sekali dirimu, Bocah yang malang",
Bersamaan dengan suara itu, Seisi ruangan yang dipenuhi pecahan kaca bergerak terjun kebawah menghilang, menyisakan dunia kosong bak luar angkasa yang ditinggali seorang lelaki berjubah hitam. Bola matanya biru dan rambutnya kuning terang. Dari postur tubuh mungkin ia berumur 20 tahunan. Lelaki itu duduk elegan diatas sebuah tahta melayang berwarna merah gelap. Pinggirannya dilapisi emas. Sutra empuk tebal menjadi sandarannya. Melalui senyum misterius, lelaki tersebut berkata padaku yang entah masih hidup atau sudah mati, mengirimkan tatapan mata tajam yang tak akan pernah kulihat dimanapun seumur hidup,
"Hei, Bocah",
"Kau butuh Kekuatan?",
***