"Jangan bergerak dulu, ya? Meski luka fisikmu sebagian besar telah sembuh, tetapi inti jiwa dan organ bagian dalammu masih dalam pemulihan. Jadi, pastikan hari ini istirahatmu banyak, oke?"
Setelah berjam-jam berjalan melintasi kawasan alam, menumpang kereta kuda seorang saudagar, akhirnya aku dibawa ke salah satu kota yang sangat asing--mungkin tempat tinggal gadis yang menemukanku.
Gedung-gedung bercat cokelat-merah berbaris rapi seolah ia susunan kartu remi simetris. Atap-atap kokoh anti hujan dilengkapi batang besi pipih penangkal petir--suatu teknologi yang belum ada di desa tempatku tinggal. Orang-orang berjalan melalui lajur khusus untuk memudahkan pengguna kereta kuda melintas. Para bangsawan tampak dimana-mana dengan pakaian kebesaran. Berpenampilan mencolok, dilindungi beberapa pengawal. Penyihir dengan seragam abu-abu berpatroli dengan berpasangan, membawa tongkat sihir dan sebilah pedang tajam berlogo kerajaan.
Setelah melalui beberapa belokkan dari jalan besar, akhirnya aku dibawa masuk kedalam suatu penginapan murah yang lantainya tingkat dua. Desainnya tidak begitu mencolok, dibangun dengan rangka kayu biasa namun kokoh. Dindingnya didominasi warna krem namun atapnya tetap cokelat--mengikuti bangunan-bangunan disekitarnya. Jendela-jendela terpasang secara rapi lengkap dengan hiasan vas bunga kecil hanya saja bagian dalamnya terhalang oleh gorden putih.
Dengan langkah tegap, Gadis yang seolah tak memiliki rasa lelah membopongku berjam-jam itu melangkah masuk penginapan melalui halaman hijau yang terawat, menyapa pemilik yang berjaga di lantai satu, duduk membaca suatu surat kabar dengan kacamata terpasang di wajah. memelintir rambutnya yang hitam pekat hingga ia disapa.
"Hoi! Masamune-san! Hari ini ada berita bagus?!", Dengan nada riangnya, ia menyapa pemilik penginapan bernama masamune sambil melambaikan tangan, membopongku hanya dengan satu tangan--astaga, seberapa kuat gadis ini sebenarnya?!--membuat lelaki dewasa bernama Masamune menghembuskan nafas beratnya, melepaskan kacamatanya, menjawab.
"Buruk sekali, Yukki-chan", menopang dagu dengan tangan kanan yang bersandar pada meja panjang.
"Konflik Kerajaan kita, Voltaire, dengan kerajaan-kerajaan tetangga meningkat. Harga barang naik. Isu-isu perang besar muncul. Lowongan pekerjaan sebagai tentara terbuka lebar. Kota-kota besar berpotensi dijadikan medan pertumpahan darah.",
Namun, alih-alih ikut merana, gadis yang ternyata bernama Yukki menaikkan alisnya. Bola mata Gadis itu berbinar terang. Bersinar layaknya aktivasi sihir. Kornea matanya kini berpendar-pendar seolah ia gemintang di angkasa yang berjarak jutaan tahun cahaya dari bumi. Begitu indah.
"Wah! Aku sangat menantikannya!",