Pagi harinya, entah apa yang ia lakukan terhadapku semalam, aku telah sembuh total. Mampu bergerak normal seperti biasanya, memeragakan beberapa gerakan beladiri yang kupelajari dari Homuro-san di desa Chiharu, duduk sopan di meja makan bundar dengan hidangan sederhana yang terlihat lezat. Kebingungan ditatap seorang Shirayaki Yukki didalam kamar penginapan tingkat dua ukuran lima kali lima yang cukup elegan untuk seseorang yang berasal dari desa sepertiku.
Langit-langitnya merupakan komponen kayu tebal yang langsung terhubung dengan bagian atap namun karena dicat dengan baik, tidak menyebabkan bocor saat hujan. Sesuai tampilan luar, bagian dalam bangunan ini didominasi oleh warna krem yang dibingkai dengan cokelat kemerahan.Sinar matahari masuk melalui jendela dekat tempat tidur yang sengaja dibiarkan terbuka. Angin yang timbul dari konversi suhu udara bersemilir masuk, menerbangkan helai rambut biru Yukki yang indah bak sutra dari negeri timur. Bola mata zamrudnya yang berkilau berkedip-kedip--tetap menatapku seolah aku adalah mainan baru yang siap dijadikan uji coba beberapa hal yang mengerikan.
"Hei...Amuro-kun...", setelah perkenalan singkat, gadis yang kini hanya mengenakan sweeter putih dengan rok abu-abu itu memanggil namaku, membuatku menelan ludah dalam-dalam, menantikan ucapan selanjutnya.
"...Meski masih kecil, kau tampan juga, ya?",
Aku hampir saja tersedak karena pertanyaan itu.
"Hei, Hei...apakah Amuro-kun sudah memiliki seseorang didalam hati?", Kali ini ia menyeringai. Agak mengerikan. Mendekatkan wajahnya. Memastikan apakah aku akan menjawab dengan jujur atau berbohong.
"Ke-kenapa Yukki-san menanyakan hal itu tiba-tiba kepadaku?!", Menolak menjawab, akhirnya aku memalingkan wajah, agak malu. Membuat si penyihir es tertawa keras, memukul-mukul meja makan, puas mengerjaiku. Memegangi perutnya yang sakit. Untuk kemudian memperbaiki intonasi ucapan.
"Maaf, maaf...aku tidak bisa menahan diri. Baiklah, bagaimana kalau kita sarapan saja dulu? Kau ini belum makan dari kemarin, bukan?",
Menggeleng pelan, aku aku cukup sungkan.
"Tidak masalah. Di desa kami aku sering tidak makan setengah hari karena jatahku kuberikan pada Yui-san",
"Tetap saja, kau harus makan!", Shirayaki Yukki agak memaksa. Mendorongku untuk mengangguk, mulai menggerakan tangan untuk menikmati hidangan.
"Te-terima kasih banyak",
Saat denting riuh rendah alat makan memenuhi ruangan, tiba-tiba saja Yukki-san menyadari sesuatu, seketika bertanya padaku yang masih mengunyah makanan, kembali mengulur senyumannya yang sebenarnya menawan sekali.
"Tunggu sebentar",