Sang Peniru

Muhammad Azril
Chapter #6

Tidak Akan

Patung porselen adalah gambaran kongret mengenai reaksi penyihir es bernama Shirayaki Yukki ketike mendengar diriku ini ingin diajari sihir olehnya. Sejenak nampak seolah gadis berusia sekitar delapan belas tahun itu kehilangan kendali tubuhnya dalam keadaan duduk. Terkesiap melihat bocah sepertiku mengucapkan kalimat yang seharusnya tak dipahami oleh anak normal seusiaku. Tetapi ia kemudian ia lagi-lagi tersenyum, lanjut mengelus kepalaku, menggeleng tegas.

"Tidak boleh", Katanya, kali ini tanpa bercanda. Membuatku sedikit merasa ia menggunakan karakter yang cukup berbeda . Yukki-san versi serius.

"Kau ingin kekuatanmu digunakan untuk balas dendam, kan? Aku tidak akan sudi mengajarimu sihir untuk alasan konyol semacam itu. Carilah penyihir lain",

Bahuku langsung merosot. Bayangan latihan keras yang akan membentuk diriku menjadi penyihir sejati langsung lenyap begitu Yukki-san memalingkan wajahnya. Tak tertarik menatapku lagi. Mengambil teko yang masih menyimpan sedikit teh. Menuangkannya ke cangkir, kembali bersantai tanpa memedulikanku.

Tentu saja aku sangat kecewa. Tapi aku tidak akan menyerah. Demi membalaskan kematian Homuro-san dan Yui-san, Aku akan mencoba berkali-kali hingga penyihir es ini mau menerimaku sebagai murid, Apapun itu. Walau harus menjadi babu seumur hidup di tempat tinggalnya dan melakukan segala pekerjaan kasar.

"Kumohon, Yukki-san! Aku ragu ada penyihir yang baik hati lain sepertimu diluar sana! Lagipula, Yukki-san sendiri kan yang mengatakan bahwa si penyihir topeng kucing masih berkeliaran? Jika tidak berlatih, mustahil aku akan mengalahkannya jika kami bertemu lagi nanti--",

"--Lalu?", Seolah angin lewat, Shirayaki Yukki hanya menjawab pelan. Tak menolehkan wajah walau sesenti. Mengabaikanku sepenuhnya secara tiba-tiba.

Suasana berubah secara drastis. Sekali salah ucap ternyata aku bisa mengubah sikap Yukki-san yang periang dan baik hati menjadi seseorang berhati dingin yang tak kukenal. 

Sangat cuek. Muram. Dan beku sepeti es.

"Itu karena kau sendiri lemah, bukan?", Shirayaki Yukki melanjutkan. Gumaman pelannya begitu menakutkan layaknya desisan ular berbisa yang kapan saja dapat mematuk dengan taring beracun. Tatapannya sangat aneh dan jelas hawa membunuh menyeruak keluar darinya, membuatku merinding di tempat. Tak dapat bergerak, bungkam seribu bahasa. Cepat sekali keinginanku memudar saat aura gelap Yukki-san yang tiba-tiba muncul membalut tubuhku, menusuk-nusuk tulang. Terasa dingin seolah pecahan es baru saja menembus kesana. Mencipta rasa sakit dan perih.

Si...siapa sebenarnya orang ini?!

"Amuro-kun", Memanggil namaku, kali ini Penyihir Es Shirayaki Yukki melirik sedikit. Tatapannya sangat tajam. Itu bukanlah tatapan hangat yang diberikan pada bocah yang akan diselamatkan apalagi diadopsi. 

Itu adalah tatapan pembunuh dingin yang siap menghabisi musuhnya kapan saja ia mau.

Salju-salju berguguran di ruangan. seluruh hidangan, piring dan alat makan yang ada diatas meja bundar mendadak membeku. Demikian pula lantai kayu yang sebelumnya cukup hangat.

Lihat selengkapnya