Sang Peniru

Muhammad Azril
Chapter #7

Akhir Dari Kesepakatan

"Sebenarnya aku tidak keberatan diberikan imbalan berapapun itu", mengangkat salah satu kaki, menimpakannya pada yang lain, melalui nada yang agak santai Shirayaki Yukki berkata pada sahabatnya yang menjabat sebagai wakil kepala kantor Serikat Petualang Ibukota, untuk suatu alasan kembali mengelus kepalaku, membuatku merinding sekali lagi karena harus merasakan telapak tangannya yang sangat dingin bagai permukaan es.

Tersenyum tipis.

"Toh, perjalananku kali ini cukup menyenangkan. Lihat, aku bawa oleh-oleh", Berkata demikian, Yukki-san memaksaku duduk diatas pangkuannya, mencubit pipiku untuk diperlihatkan pada Najimi Harui yang masih serius bernegosiasi, membuatnya agak kebingungan.

Tunggu...tunggu! Apa maksudnya ini?!

Melalui gaya bicara yang berhati-hati, wanita pendek berambut merah muda bertanya sambil ikut tersenyum.

"Anu...Yukki-chan. Bukankah kemarin kau berkata sendiri bahwa manusia itu tidak boleh dijadikan budak atau bahan komersil?",

"Eh, Tidak!", Gadis berambut biru muda menyanggah.

"Aku tidak membelinya dari pasar budak! Aku menyelamatkannya, lho?! Menyelamatkan bagai seorang dewi kebajikan!", Kemudian mendekapku erat-erat seolah aku bantal sofa yang bisa dijadikan pelampiasan para pengunjung yang mengalami gejolak emosi.

"Baik-baik... jadi seperti biasa aku akan memberikan bagian separuh dari hadiah misi, seperempat untukku yang membantumu mengurus administrasi, dan sisanya untuk Perserikatan Petualang...bagaimana? kau keberatan?", Mengambil pena dan secarik kertas, Najimi Harui yang terlihat seperti lulusan akademisi menulis cepat perjanjian resmi lengkap dengan poin-poin kesepakatan, meminta Shirayaki Yukki menandatangani pembagian jatah yang cukup besar dari hasil hadiah misi yang akan diperoleh dari kerajaan. 

Menandatangani dalam sedetik, penyihir es yang masih sibuk mendekapku itu berkata dalam nada ceria yang aneh, mengingatkan Najimi Harui yang ikut menandatangani dan memberi stempel merah.

"Oh iya! Satu hal lagi yang hampir kulupakan!",

Aku menelan ludah. Lagi-lagi berfirasat buruk.

Bola mata zamrud indah Shirayaki Yukki menyipit.

Lihat selengkapnya