Sang Peniru

Muhammad Azril
Chapter #8

Perjalanan Ditengah Malam

Matahari hampir saja tenggelam ketika aku sampai di penginapan bersama si penyihir es Shirayaki Yukki yang tampak kelelahan memasang wajah riangnya sepanjang hari. Kami berkeliling ibukota, berbelanja pakaian di beberapa butik, membeli beberapa barang di pasar yang begitu ramai dan sesak, menumpang kereta kuda yang lewat supaya cepat sampai, langsung ambruk diatas kasur empuk begitu memasuki kamar, membiarkan barang-barang belanjaan tergeletak sembarangan, terengah-engah sambil mengusap pelipis. Ingin tidur hingga esok pagi.

Astaga. Aku capek sekali.

Baru kali ini aku menyadari bahwa belanja seharian ternyata sama beratnya dengan latihan fisik setengah hari bersama Homuro-san. Menguras tenaga. Menguras keringat dan daya. 

Ajaibnya, setelah berbaring sejenak melepas penat, gadis berambut biru muda dan bermata zamrud disebelahku itu kembali bangkit, berkacak-pinggang, mengulurkan tangannya yang pucat kepadaku, tersenyum lebar.

"Ayo, Amuro-kun! Malam ini kita akan makan diluar!",

Hari sudah mulai gelap, lentera-lentera jalan dinyalakan. Menciptakan panorama keindahan malam yang baru dari kilauan api kecil berjumlah ribuan sepanjang jalan, indah layaknya jutaan gemintang di langit yang biru kehitaman. Aktivitas penduduk menurun. Jalanan menjadi sunyi dan dingin. 

Walau sebenarnya hendak menolak, demi mengetahui bahwa Yukki-san adalah penyihir yang telah menyelamatkan dan merawatku, aku akhirnya mengangguk, menerima uluran tangan gadis itu yang sangat halus dan lembut--tapi dingin layaknya es. 

Yukki-san sama sekali tidak berkeringat. Meski matahari menyengat sepanas-panasnya, ia tetap keluar mengenakan syal merah yang hangat. Tubuhnya selalu 'beku' kapanpun dan dimanapun. Memberikan gambaran sempurna dari sosok dengan julukan 'si penyihir es' secara harfiah maupun maknawiyah.

"Mau kugendong?", Melihat diriku berusaha berjalan dengan kaki yang pincang, Yukki-san menawarkan melalui senyumnya yang misterius.

Dengan penuh rasa hormat, aku menolak.

"Terima kasih, Yukki-san. Tapi aku masih kuat berjalan sendiri",

Menuruni beberapa anak tangga, bertemu lagi dengan pemilik penginapan Masamune Umami yang cuek, hanya mengangguk pelan ketika dua tamunya lewat, lagi-lagi kami berjalan di pinggir dekat lampu-lampu kota yang menjadi navigasi, bergandengan tangan layaknya ibu dan anak, mencari salah satu kedai terdekat yang buka.

Jalanan begitu sepi. Meski berada di ibukota, namun posisi penginapan yang disewa Yukki-san termasuk pinggiran. Dekat dengan gerbang masuk kota. Mungkin posisinya cukup dekat dengan kantor harian Serikat Petualang. Akan tetapi, jika kami ingin mencari kebutuhan sebagaimana penduduk ibukota pada umumnya, kami harus berjalan cukup jauh. Tanpa kereta kuda apalagi.

Aku yakin Yukki-san dapat melakukan sesuatu dengan sihirnya seperti terbang atau menghilang-muncul di tempat lain sebagaimana si penyihir bertopeng kucing--tetapi, demi menemaniku berjalan menyusuri pinggiran kota, aku sadar ia sengaja tidak menggunakan kekuatannya.

Lihat selengkapnya