Sang Peniru

Muhammad Azril
Chapter #9

Pembegalan Ditengah Malam


Hanya karena dua porsi daging kerbau bakar yang dijejalkan begitu saja dan segelas bir, ternyata penyihir kuat seperti Shirayaki Yukki dapat terkapar dalam sekejap di kedai, harus kubopong keluar setelah membayar di kasir, berjalan tertatih-tatih sementara wanita yang rambut biru mudanya sangat wangi tersebut berceloteh,

"Ah..~ Amuro-kun...Ayolah...Jangan langsung pulang begitu...~Aku masih mau minum...~!",

Dengan berat hati, aku mencoba menyadarkan Yukki-san, sambil tetap menyeretnya ditengah larutnya malam.

"Maafkan aku, Yukki-san. Tetapi Yukki-san telah makan dan minum sampai batas Yukki-san sendiri. Tadi Yukki-san saja sempat pingsan di tempat",

"A...Aku tidak peduli...~!", Sambil berseru demikian, tiba-tiba saja ia mengacungkan jari telunjuk, mengumpulkan energi sihir disana, membuatku kaget setengah mati, refleks menghindar di detik-detik akhir sebelum kemudian menyadari sekelabat tembakan biru melesat dari sana, menghantam sebuah kursi kayu pinggir jalan berwarna cokelat, membekukannya seketika, menciptakan puluhan ujung mata es mengarah ke segala sisi yang membuatnya tidak lagi layak diduduki.

Sambil mengatur nafas, aku mengguncang tubuh Yukki-san yang lemas, namun cukup ringan untuk seorang wanita dewasa, agak 'memarahi'-nya.

"Yukki-san! Aku baru saja hampir mati, lho?!"

Tetapi ia telah pingsan, tergeletak sepenuhnya di kedua tanganku, memberikan beban lebih yang harus kuangkat, memaksaku menghembuskan nafas kesal tanpa bisa menggerutu lebih, memutuskan berjalan kembali, segera kembali ke penginapan sebelum gadis ini membekukan seisi ibukota. 

Tetapi, kesialan ternyata lagi-lagi menimpaku.

Diantara remangnya tempias lentera jalan pinggiran ibukota, segerombolan pria dewasa yang setengah mabuk menghalangi jalanku, membawa beberapa senjata dan pecahan botol kaca yang tajam, tersenyum menyeringai bak seekor serigala yang baru saja menemukan anak domba terjebak, siap memangsa. Tanpa dipikir pun aku paham jelas gerombolan pria ini bukan orang baik. Mungkin semacam bandit atau perampok. Di desa Chiharu dulu juga ada bandit-bandit liar yang mencoba menyerang penduduk, hanya saja karena ada Homuro-san, semuanya dapat dikalahkan dengan mudah.

Tapi, kondisinya buruk. Yukki-san pingsan dan aku harus membawa tubuhnya. Homuro-san tidak ada disini dan aku harus bertarung dengan belasan pria dewasa yang bersenjata.

"Tak perlu basa-basi lagi, bocah. Serahkan semua harta yang kau dan wanita itu bawa--atau kau akan menerima akibatnya", Seolah sama-sama memahami, pria terbesar dan tertinggi postur tubuhnya maju, mengacungkan pentungan kayu, berkata kasar sambil setengah mabuk, memeras seraya mengancamku dengan acungan pentungannya, membuatku menelan ludah.

Tapi aku masih bisa berpikir jernih. 

Melawan sebelas orang dewasa jelas mustahil, apalagi dengan tubuhku yang bocah dan senjata di tangan mereka.

Aku bisa membahayakan Yukki-san jika mencoba memberontak.

 "Jika menyerahkan semua harta yang kumiliki, kalian tidak akan mengganggu kami, kan?", Bernegosiasi, aku meletakkan tubuh Yukki-san diatas tanah, mengangkat kedua tangan tanda menyerah, berusaha bicara baik-baik.

Astaga, dimanapun tempatnya orang-orang seperti ini pasti ada, ya?

"Bukan hartamu saja!", Pria yang nampaknya adalah pemimpin gerombolan berseru, menyadari sesuatu dari ucapanku.

"Harta wanita itu juga!",

Lihat selengkapnya