"Kak, aku takut",
Suara pelan yang cukup gemetar itu bergema diantara ruang berwarna putih yang kosong melompong. Tanpa kasur, tanpa jendela, tanpa sumber paparan cahaya. Hanya ada piring kayu berjamur yang diisi dua roti berisi daging. Kesunyian yang meliputinya ikut menambah kesan kesedihan didalam suara gadis kecil tak bersalah tersebut. Dirantai kakinya, dirantai tangannya. Bukan rantai sembarangan. Rantai itu sangat kuat. Terbuat dari logam anti-sihir terbaik yang ada di benua. Mampu menekan kekuatan para penyihir istana sekalipun. Lebih dari cukup untuk membuat kedua gadis yang berada di dalam ruang kurungan putih tak dapat melakukan apa-apa, tergeletak kebingungan, melaksanakan apapun yang diperintahkan orang-orang berjas putih yang dalam waktu berkala datang memeriksa mereka.
Tak tahan dengan hal yang menimpanya, salah satu gadis mulai menangis. Membuat udara didalam kurungan seolah teriris-iris oleh isakannya. Gadis kecil lain yang dipanggil kakak tak tega melihat hal itu, cepat-cepat menghampiri adiknya walau terseok-seok, berusaha menenangkan dengan membelai kepalanya, membisikkan kalimat 'jangan khawatir' berkali-kali dengan penuh kasih sayang. Teliti mencari celah untuk melarikan diri--berusaha lepas dari neraka antah-berantah ini bersama sang adik untuk selama-lamanya.
Akan tetapi, belum habis tangisan sang adik, sekelompok orang berpakaian putih menghampiri ruang kurungan mereka, mengintip melalui jeruji besi yang telah dilapisi logam anti-sihir, dialiri listrik bertenaga tinggi--sangat cukup untuk membuat pingsan seorang gadis kecil apabila coba-coba menyentuhnya--membawa beberapa suntik dengan berbagai warna cairan dan ukuran. Tampak mengerikan dan berbahaya.
Sang kakak mengerti apa yang akan dilakukan orang-orang berjubah putih dengan suntikan-suntikan itu karena ia telah berkali-kali mengalami hal tersebut bersama adiknya beberapa hari lalu. Sehingga, dengan refleks si kakak berusaha berontak, mencoba melepaskan rantai yang mengikat kaki dan tangan, mengirim tatapan tajam dengan aura membunuh yang sangat mengerikan, berusaha mengintimidasi orang-orang berjubah putih seolah mudah sekali baginya untuk menghabisi mereka, berseru lantang.
"JANGAN SENTUH ADIKKU LAGI, BEDEBAH--!!",
Tetapi sayang, sebelum ucapan itu berhenti, salah seorang berjubah putih menekan suatu tombol, membuat desingan pelan yang cukup aneh. Menyalakan suatu mekanisme sihir berteknologi tinggi.
Sedetik setelahnya, mendadak rantai yang membelenggu si kakak bersinar terang. Kuning berakar bagai kilat diantara awan gelap. Membuatnya berteriak parau, lumpuh seketika, terkapar seolah ia pohon roboh, sehingga si adik kembali menangis lebih kencang lagi.
Dengan kondisi yang lebih kondusif, akhirnya orang-orang berpakaian putih mulai membuka sel kurungan tanpa warna. Mengeluarkan beberapa alat yang daripada disebut alat penelitian atau percobaan medis, ia lebih mirip disebut sebagai alat penyiksaan tawanan.
Dalam seringai orang-orang berpakaian mirip peneliti tersebut, lagi-lagi kedua gadis harus melewati malam dalam jeritan kesakitan yang tak terkira. Menjadi bahan percobaan beberapa teknologi yang sebenarnya tidak lulus lisensi. Dijejalkan paksa seolah itu adalah makan malam mereka yang harus segera dihabiskan. Secara menyedihkan menerima perlakuan yang sama sekali tidak layak diterima oleh makhluk hidup--apalagi manusia.
Malam itu--dan malam-malam berikutnya--kedua gadis kecil yang sama-sama memiliki rambut putih tanpa warna seolah didatangi neraka yang paling dalam.
Perlahan-lahan.
Mulai beradaptasi.
Sehingga, dalam beberapa tahun menjadi monster yang super mengerikan.
Monster tak tertandingi yang akan melayani kepentingan orang-orang yang disebut sebagai...
...'petinggi'.