Sang Peniru

Muhammad Azril
Chapter #11

Konsekuensi

Kehangatan sinar mentari yang menerobos melalui celah jendela adalah hal pertama yang menyambut kedua mataku begitu ia terbuka. Dalam kesadaran yang belum lengkap, diatas kasur penginapan yang putih dengan selimut cokelat tebal, samar-samar kulihat wajah Yukki-san yang cemas, berkedut alisnya khawatir aku tidak akan bangun lagi, sesunggukan pelan saat aku berhasil mengedip-ngedipkan mata, menggerakkan anggota badan yang kini sama sekali tak terasa sakit, Menatap gadis muda di depanku, agak heran berpikir kemana perginya luka dan cedera fatalku semalam? Apa yang terjadi dengan gerombolan pembegal--dan yang lebih penting: apa yang Yukki-san perbuat pada mereka?

"Yu-Yukki-san--",

Plop

Dalam satu gerakan, Shirayaki Yukki yang lega aku bisa diselamatkan langsung memeluk erat. Menangis tersedu-sedu. Di dalam kamar penginapan yang sebenarnya cukup sempit kulihat pula si pemilik penginapan yang cuek, Masamune-san, Wakil Kepala Serikat Petualang di ibukota, Harui-san beserta seorang pria tua berkacamata kotak ikut menunggu kesadaranku sambil duduk di kursi kayu berukir indah penginapan, entah apa yang mengundang mereka kembali. 

Akan tetapi, dekapan Yukki-san yang begitu kuat dan hangat membuatku lupa akan semua itu.

Baru kali ini aku merasa sosokku dihargai. Tangisan Yukki yang bahagia melihatku masih hidup membuatku tersadar bahwa masih ada orang di dunia ini yang mengharapkan keberadaanku. Menginginkan kehidupanku. Dibalik sifatnya yang ceplas-ceplos dan terkadang dingin, sebenarnya Shirayaki Yukki adalah penyihir yang baik hati. Dalam kesadaran yang terdalam, aku seperti bisa merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

Sebuah rasa yang tak pernah kudapati sebelumnya.

"Sudahlah, Yukki-chan...Mau sampai kapan kau begitu? Tolong jangan merepotkan wakil dan kepala Serikat Petualang yang sudah repot-repot datang sekaligus menghampirimu di kamar ini. Toh, Amuro-kun bukan anakmu juga, bukan?", bosan menunggu lama-lama, Masamune-san akhirnya menyeletuk, membuat si penyihir es yang sedang terisak kesal mendadak, menoleh kepadanya dengan bola mata zamrud yang membulat. Tapi dari nadanya saja aku tahu dia sedang malu.

"Biarin! Lagipula sejak dulu aku memang ingin punya anak manis yang bisa kuurus!",

Tetapi kali ini Harui-san dan lelaki tua di sebelahnya yang cukup terperanjat.

"Astaga, ternyata gadis sepertimu juga bisa memiliki keinginan yang seperti itu, ya? Yukki-chan?",

"Yah...memang secara garis besar semua perempuan itu sama...", Lelaki tua berkacamata kotak berdehem pelan.

"Jangan-jangan...perjalanan misimu yang kemarin itu memang...--", Sengaja menahan ucapan, Najimi Harui menggoda Yukki-san yang semakin terpojok. Dalam kebingungan, gadis berambut biru muda itu berteriak kencang-kencang sambil mengancam.

"Arrgh!! Keluar saja kalian sebelum kubekukan dengan sihir!!!",

Sambil tertawa, ketiga orang itu akhirnya bergegas keluar kamar penginapan Yukki-san, menutupnya kembali, memutuskan menunggu di dekat meja penerimaan tamu--dekat tempat duduk Masamune-san biasanya membaca surat kabar.

Melihat tingkah mereka yang lucu, aku akhirnya ikut tertawa, lupa bahwa Shirayaki Yukki di dekatku masih dalam emosi yang tidak stabil, baru tersadar saat semuanya sudah terlambat, pasrah melihat Yukki-san dalam mode seram mengacungkan telunjuknya padaku, mengirimkan hawa dingin yang membuat kulit merinding sampai ujung kaki.

"Hei...Amuro-kun...", ia mendesis bagai ular yang siap mematuk.

"Tadi kau...sempat tertawa, kan?!",

Lihat selengkapnya