Sang Peniru

Muhammad Azril
Chapter #12

Pelatihan Rasa Neraka



Matahari sudah tergelincir saat keringatku mengucur deras, membasahi pakaian. Dataran berlapis es yang licin berdecit berisik setiap kali aku bergerak, menjadi medan pertempuran terburuk untuk latihan pertamaku, sementara dari kejauhan, Yukki-san yang sama sekali tidak terlihat kelelahan duduk diatas tahta indah berkomponen es buatan, menguap mengantuk, tetap mengenakan sweeter putih dan syal merah hangatnya seolah teriknya matahari sama sekali tidak terasa, bosan dengan pergerakanku yang tidak ada perkembangan. Mengirim belati-belati es tajam yang mengejar melalui kecepatan tinggi, memaksaku terus bergerak tanpa henti atau akan terluka parah.

"Masih terlalu lambat! Jika kemampuanmu hanya begini, baru perang dimulai pun kau akan langsung mati, Amuro-kun!", 

Mengetahui umurku masih dua belas tahun dan belum mengalami kebangkitan sihir seperti Yui Chiharu, Shirayaki Yukki sebagai ahli sihir memutuskan melatih fisikku mati-matian, lebih buruk daripada Homuro-san yang masih memberikan jeda. Gadis berambut biru muda itu sangat kejam dalam melatih. Berjam-jam berlatih ia tidak memberiku istirahat walau semenit, selalu mengganti latihan dengan model baru yang dirancangnya. Aku tidak tahu apakah latihan semacam itu merupakan pengalamannya dahulu atau uji coba dari insting Yukki-san milikki. Tetapi, yang pasti, tindakan yang ia lakukan jelas merupakan perbuatan keji.

Jalanan besar ibukota yang telah diratakan dari bongkahan es disulap menjadi lapangan latihan menghindar yang indah, dipenuhi lingkaran-lingkaran sihir yang siap melepas jurus dari segala arah, secara alami memaksa insting bertahanku untuk menebak darimana serangan akan datang, berusaha menghindarinya dengan tubuh seorang bocah dua belas tahun.

Setiap kali aku berhasil bertahan, menghindari jurus-jurus es Yukki-san, setiap itu pula ia meningkatkan intensitas sihirnya. Awalnya hanya satu bongkahan es ukuran tangan yang melesat setiap lima detik. Tetapi kini rasanya setiap detik selalu ada sepuluh bilah pedang es yang mengejar seolah ia dikendalikan, tidak lurus lagi seperti awal latihan, siap menembus tubuh dari berbagai arah--benar-benar latihan yang menantang maut.

Zleb! Zleb! Zleb!

Gagal mendarat mulus, dengan pasrah aku menerima tiga bilah pedang es yang meluncur tanpa gangguan, cepat-cepat kuhalau dengan menjadikan kedua tangan sebagai tameng terakhir, berteriak kesakitan sambil melihat darah yang menciprati wajah, sementara gadis berambut biru muda di sudut lapangan pelatihan hanya mengangkat tangannya pelan, bergumam,

"Ah, kau gagal lagi",

Sihir Es: Sentuhan Penyembuh

Dalam jarak jauh, Shirayaki Yukki meniupkan nafas sejuk yang membungkus kedua lenganku, memberinya rasa dingin dibawah sekian derajat celcius yang secara ajaib menutup luka-luka, menghentikan pendarahan. 

Selain merupakan penyihir berdaya kerusakan tinggi, Yukki-san juga merupakan penyembuh yang sangat handal.

Baru saja bangkit untuk berterima-kasih, kusadari lingkaran-lingkaran sihir berwarna biru cerah kembali menyala, melesatkan bilah-bilah pedang es baru, memaksaku menghindar secepatnya, berusaha menyesuaikan diri dengan intensitas baru yang selalu bertambah, membuang keinginan untuk beristirahat jauh-jauh supaya bisa fokus, Melakukan improvisasi.

Trang! Trang! Trang!

Lihat selengkapnya