Sang Peniru

Muhammad Azril
Chapter #13

Topeng Kucing Putih

Hingga malam menjelang, kusangka latihanku tidak ada perkembangan sama sekali sejak Yukki-san mengubahnya menjadi tes menghindari seribu lebih bilah pedang es yang melesat dari segala arah. Akhirnya wanita itu mencari model latihan lain: menyuruhku menyerang dirinya dengan kekuatan penuh. Sekali berhasil membuatnya bergeser satu langkah maka aku dinyatakan menang dan berhak mendapat pelatihan berikutnya. 

Kupikir kali ini latihannya akan mudah. Namun, tak disangka-sangka, Shirayaki Yukki sangat ahli dalam pertempuran jarak dekat bahkan tanpa sihir sekalipun. Betapa seringnya aku mengirimkan tendangan atau pukulan--bahkan yang tipuan sekalipun--Yukki-san dapat meresponnya dengan sempurna, menangkis dengan satu tangan, tak bergerak walau seujung jari. Membuatku terperanjat setengah mati melihat sosoknya yang mirip sekali dengan Homuro-san--bahkan mungkin lebih kuat darinya.

Capek tak mampu melanjutkan lagi, Yukki-san memberhentikan latihan pada hari ini, mengamati langit yang berwarna oranye, menyuruhku beristirahat setelah setengah hari berlatih hidup-mati dibawah bimbingannya. 

Sampai di penginapan yang tertembus bongkahan es dari berbagai arah, aku hampir saja pingsan diatas lantai kamar Yukki-san jika tidak segera mengambil kesadaran yang nyaris melayang. Memutuskan bersih-bersih diri di lantai satu. Sementara Yukki-san pergi entah kemana--mungkin mencari makan malam.

Dalam genangan air panas yang menenangkan, aku mencoba mengingat kembali apa saja yang kuperoleh hari ini dari Yukki-san. Improvisasi di tengah medan, berusaha menggunakan segala hal untuk bertarung, jangan mengeluh dengan perubahan kondisi medan yang terjadi secara tiba-tiba--banyak sekali yang harus kuingat-ingat dalam sehari. Bisa gila aku jika latihan seperti ini berjalan selama setahun atau dua tahun seperti yang kuterima di desa Chiharu.

"Aku ini...",

"...Ternyata lemah sekali, ya...?",

Mengingat betapa payahnya aku di latihan tadi, pelan-pelan kepercayaan diriku untuk menjadi penyihir kuat dan hebat menghilang. Di hadapan Yukki-san saja aku seolah hanya semut yang hendak menghabisi seekor macan. Tak ada bandingannya sama sekali. Padahal aku akan berpetualang mencari si penyihir bertopeng kucing yang bertanggung-jawab atas kematian Yui-san, Homuro-san dan seluruh penduduk desa yang lain.

Aku harus menjadi lebih kuat lagi.

Sekitar setengah jam berendam, aku akhirnya menggunakan handuk, memakai baju ganti yang telah dibelikan oleh Yukki-san kemarin ditengah ibukota, kembali ke kamar, menyadari ada laci meja yang terbuka.

Laci meja itu terletak disalah satu sudut ruangan yang cukup gelap. Lilin kecil yang terletak diatas meja masih mati. Beberapa buku dengan judul yang tak dapat kubaca berserakan bersama kertas-kertas bertuliskan sesuatu, berantakan diatas meja yang memang jarang dirapikan.

Demi menghormati privasi Yukki-san yang seorang wanita, aku tidak berani melihat lebih jauh, berjalan mendekat, hendak menutup laci tersebut, akan tetapi seketika membeku, terkejut bukan main melihat apa yang ada di dalamnya.

Sebuah topeng kucing putih yang sangat kukenal.

Topeng yang tidak mungkin kulupakan seumur hidup.

Lihat selengkapnya