Sang Peniru

Muhammad Azril
Chapter #14

Maafkan Aku

"Katakan bahwa kau tidak memiliki topeng ini, Yukki-san", tanpa ba-bi-bu lagi, aku langsung bertanya.

Darahku mendidih. Air mataku mengalir. Dalam benakku menari-nari memori pahit dimana desa Chiharu hancur, Homuro-san dibakar jadi abu, dan Yui-san hilang tak bersisa dihempas bola api panas. Amarahku bangkit dan jelas tubuhku gemetar. Tak peduli apa saja yang baru saja Yukki-san lakukan padaku, satu-satunya keinginanku saat ini adalah menghabisinya, membuatnya membayar tuntas apa saja yang diperbuatnya kepada orang-orang yang paling kusayangi. Kalau bisa, akan kusiksa gadis itu perlahan hingga merasakan balasan setimpal dari tangisanku selama ini.

Namun, tak diduga, melalui wajah tanpa ekspresi gadis berambut biru muda yang sebelumnya kuanggap ibu itu mengangguk, menjawab singkat.

"Itu memang milikku, Amuro-kun",

Seketika aku berseru kencang, marah hebat.

"Dasar bedebah!! Berarti kau menipuku selama ini, Yukki-san??!!!",

Bahuku gemetar, dalam emosi yang sangat tidak stabil, aku memecahkan vas bunga kecil yang terletak diatas meja, mengambil potongan tajamnya sebagai senjata, berlari menerjang Shirayaki Yukki yang masih belum beranjak dari tempatnya, hendak membunuhnya secepat mungkin.

Dengan nada tak bersalah, ia menjawab lagi.

"Benar, Amuro-kun.",

"Selama ini aku menipumu",

"Maafkan aku",

Crat!

Menusukkan pecahan vas bunga, seranganku terhalang oleh lengan Yukki-san yang bergerak cepat, mengorbankan telapak tangan kirinya demi menangkis tusukan, menahan gerakanku.

Aku meraung.

"KAU TELAH MEMBUNUH KELUARGAKU YANG BERHARGA DI DESA, BODOH!!!"

Mencabut pecahan vas yang tajam, menusukkannya berkali-kali ke Yukki-san yang tak bergeming di depan pintu masuk kamar.

Darah muncrat dimana-mana. Merembes, Membasahi lantai, menciprati kasur. Hanya kurang dari seminggu, hancur sudah kebersamaanku dengan Yukki-san di ibukota. Semua kebaikan itu, semua rasa kasih sayang itu, semua perhatian itu, kini telah berubah menjadi hubungan bunuh-dibunuh yang mengerikan.

"KAU MENGHABISI HOMURO-SAN!! KAU MEMBAKAR YUI-SAN SAMPAI TAK BERSISA TUBUHNYA!! BETAPA KEJAMNYA DIRIMU!! KAMI SALAH APA MEMANGNYA SEHINGGA HARUS DIBANTAI SEPERTI ITU, YUKKI-SAN?!!!",

Hingga aku membentak keras seperti itu, Shirayaki Yukki tak berniat untuk lari atau menghindar, terpaku di tempatnya tanpa membantah sedikitpun. Sebaliknya, bola mata zamrudnya justru berkaca-kaca, berujar diantara rintih kesakitan,

"Aku tahu",

"Maafkan aku, Amuro-kun",

Pasrah dirinya ditusuk berkali-kali oleh pecahan vas bunga, hingga tangannya tak kuat lagi menerima serangan, tertusuk tepat di perut, sangat dalam, tembus melewati punggung. Membuat gadis itu terbatuk-batuk darah merah kental. Terdorong mundur hingga menabrak pintu. Tetapi ia malah maju kembali, mendekapku, menangis pelan. Isakannya yang pilu membuatku cukup geli, mencabut sekali lagi pecahan vas bunga yang berlumuran darah, menusuk dada gadis di depan yang telah menyelamatkan nyawaku dua kali, berseru marah.

"'Maafkan aku'??!! JANGAN BERCANDA!! KAU BERPIKIR BERAPA NYAWA ORANG YANG HARUS HILANG AKIBAT DIRIMU PADA MALAM ITU, HAH?!! APAKAH KAU MEMAAFKAN MEREKA, MEMBIARKAN MEREKA KABUR?!!!"

Tak henti-henti menusuk Yukki-san hingga telapak tanganku terluka sendiri, ikut berdarah, tak kuat memegang pecahan vas bunga, menjatuhkannya secara refleks karena perih.

Meski tubuhnya dilukai sedemikian rupa, dalam tatapan kosongnya, Yukki-san masih tidak beranjak dariku, mendekap semakin erat walau darah bercucuran di tubuhnya, menguras tenaga gadis tersebut hingga batas yang berbahaya, membuat nafasnya melemah, detak jantungnya hampir hilang. Ditengah kondisi kritis yang sebentar lagi akan membuat nyawanya melayang, ia malah terisak kencang, berujar sesunggukan,

"Maafkan aku, Amuro-kun...hiks...Maafkan Aku...",

Untuk kemudian tubuhnya jatuh, ambruk begitu saja diatas lantai, bermandikan darah yang sebelumnya telah menggenang, tergeletak disamping dua potong roti hangat yang sebelumnya ia beli dan hendak dimakan bersama. 

Sweeter putihnya kini berubah warna. Syal merahnya semakin pekat dan hangat oleh panasnya darah yang mengucur.

Lihat selengkapnya