Sang pewaris

BT family
Chapter #1

Dipatahkan di atas meja

Langit Jakarta sore itu berwarna jingga, warna harapan. Setidaknya, itulah yang Gara coba yakinkan pada dirinya sendiri. Kemeja batik lawas yang ia kenakan terasa sedikit kaku di pundak, satu-satunya kemeja terbaik yang ia miliki, dibelinya dari pasar loak dua tahun lalu untuk wawancara kerja yang gagal. Di lehernya, tersembunyi di balik kerah, tergantung sebuah liontin kecil berbentuk kujang. Pusaka keluarga katanya, satu-satunya peninggalan nyata selain nama dan asal-usulnya yang samar: Indramayu Barat, sebuah desa di perbatasan Subang Utara. Ia tak pernah benar-benar tahu, hanya cerita dari ibu panti.

Gara menghela napas, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar lebih kencang dari deru lalu lintas di luar Restoran Bimasena. Tempat ini seperti dunia lain. Lantai marmernya berkilauan memantulkan cahaya lampu kristal raksasa yang menggantung anggun di langit-langit. Aroma masakan mahal—daging panggang, mentega, dan rempah-rempah yang tak ia kenali—menguar di udara, kontras dengan aroma nasi warteg yang biasa ia hirup. Setiap denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti musik surgawi yang mengejek isi dompetnya yang nyaris kosong.

Seluruh tabungannya selama dua tahun bekerja sebagai kurir dan pekerja serabutan lainnya—lima juta rupiah—telah ia relakan untuk malam ini. Sebuah pengorbanan besar untuk sebuah tujuan yang lebih besar: melamar Arini, kekasihnya, secara resmi di hadapan kedua orang tuanya. Di sakunya, sebuah kotak beludru biru berisi cincin perak sederhana terasa berat, membawa seluruh asa dan masa depannya.

"Gara, kamu sudah lama menunggu?" Suara lembut itu membuyarkan lamunannya.

Arini tiba, secantik bulan purnama. Gaunnya yang berwarna krem membalut tubuhnya dengan sempurna, rambutnya yang hitam legam tergerai indah. Tapi senyumnya malam ini terasa berbeda, tipis dan rapuh. Di belakangnya, kedua orang tuanya berjalan dengan langkah angkuh. Ayahnya, Pak Hutama, seorang pengusaha properti, menatap Gara dengan sorot mata yang dingin dan tajam, seolah sedang menginspeksi barang cacat. Ibunya, Bu Laras, hanya memberinya senyum sekilas yang tak mencapai mata.

"Selamat malam, Om, Tante," sapa Gara seraya berdiri, sedikit membungkuk.

"Malam," jawab Pak Hutama singkat, langsung duduk tanpa membalas jabatan tangan Gara yang terulur canggung. Atmosfer di meja mahoni itu seketika menjadi berat.

Pelayan datang dan menyodorkan buku menu yang tebal dan berat. Gara menelannya dengan susah payah saat melihat deretan angka di sana. Harga satu porsi steak bisa untuk membayar sewa kamarnya selama tiga bulan.

"Kalian pesan saja apa yang kalian mau," ujar Gara, berusaha terdengar santai, padahal keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Pak Hutama tertawa sinis. "Kamu yakin? Jangan sampai setelah ini kamu makan mie instan selama setahun."

Arini menyikut lengan ayahnya. "Ayah..."

"Biarkan saja, Arini. Laki-laki itu harus diuji kemampuannya," sahut Bu Laras sambil membolak-balik menu dengan jari-jari lentiknya yang dihiasi berlian. "Jadi, Gara... apa pekerjaanmu sekarang? Masih jadi pengantar paket?"

Lihat selengkapnya