Gara terbangun karena suara kokok ayam dari pekarangan sebelah yang terdengar parau, bertarung melawan deru samar kendaraan pagi. Kepalanya berdenyut nyeri, sisa-sisa keputusasaan semalam masih membekas seperti endapan lumpur di dasar jiwanya. Untuk sesaat, ia berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk. Namun, rasa perih di buku-buku jarinya yang lecet dan membiru dengan cepat membawanya kembali pada kenyataan yang pahit. Hinaan itu nyata. Penolakan itu nyata.
Ia mengerang, mencoba bangkit dari lantai yang dingin. Tubuhnya terasa remuk, kemeja batiknya yang basah semalam kini kering dan kaku di badannya. Hal pertama yang ia sadari adalah liontin kujang di lehernya terasa normal kembali, dingin dan diam, seolah tak pernah memancarkan cahaya dan kehangatan magis. Gara mengernyit. Mungkin itu hanya halusinasi, pikirnya. Efek dari stres, lapar, dan emosi yang meledak-ledak. Otak bisa menciptakan ilusi aneh saat berada di titik terendah.
Dengan langkah gontai, ia berjalan keluar kamar menuju dapur umum di rumah kos itu. Tenggorokannya kering kerontang, butuh air. Di ruang tengah, Bu Tuti, pemilik kos yang cerewet, sedang duduk di depan televisi tabung tuanya dengan kening berkerut. Layar kaca menampilkan tajuk berita utama yang ditulis dengan huruf kapital tebal berwarna merah.
"KEPUTUSAN DARURAT PEMERINTAH: RUPIAH RESMI DIREDENOMINASI, TIGA ANGKA NOL DIHAPUSKAN EFEKTIF PER TENGAH MALAM."
Gara berhenti melangkah. Matanya terpaku pada layar. Seorang reporter berita dengan wajah serius menjelaskan situasi yang terdengar seperti plot film fiksi ilmiah.
"...langkah drastis ini terpaksa diambil untuk mengatasi krisis moneter mendadak yang mengancam stabilitas ekonomi nasional. Efektif mulai hari ini, nilai uang seribu rupiah lama setara dengan satu rupiah baru. Seluruh harga barang, jasa, gaji, serta saldo perbankan akan disesuaikan secara otomatis oleh sistem..."
Bu Tuti menggerutu sambil memegang kepalanya. "Pusing aku! Semalam tidur, harga beras masih lima belas ribu seliter. Pagi ini bangun, lihat di berita katanya jadi lima belas rupiah! Ini pemerintah ada-ada saja, bikin bingung orang tua!"
Dunia Gara seakan berhenti berputar untuk kedua kalinya dalam dua belas jam. Redenominasi? Tiga nol hilang? Otaknya yang masih keruh mencoba memproses informasi itu. Berarti... uang seratus ribu di dompetnya sekarang nilainya hanya seratus rupiah? Gara merasakan gelombang kepanikan baru, lebih dingin dan menusuk dari patah hatinya.
Ia berlari kembali ke kamarnya, membongkar dompetnya yang tipis. Ada dua lembar uang seratus ribuan dan selembar lima puluh ribuan di sana. Sisa uangnya sebelum bencana semalam. Jika apa yang dikatakan berita itu benar, maka total uang fisiknya kini tak lebih dari dua ratus lima puluh rupiah. Tidak cukup bahkan untuk membeli sebotol air mineral.
Dan tabungannya...
Oh, Tuhan, tabungannya. Lima juta rupiah. Seluruh hasil kerja kerasnya, darah dan keringatnya selama bertahun-tahun. Jika tiga angka nol dihilangkan, maka saldonya di bank kini hanya tersisa... lima ribu rupiah.
Napas Gara menjadi sesak. Kakinya lemas hingga ia kembali terduduk di lantai. Semesta benar-benar sedang bercanda dengannya. Setelah hatinya dihancurkan, kini seluruh fondasi hidupnya juga ikut dilenyapkan dalam semalam. Habis sudah. Tamat. Ia bukan lagi hanya seorang pemuda miskin yang patah hati, ia kini seorang gembel dalam artian yang sesungguhnya.