Kenyataan terasa seperti sebilah pisau bermata dua. Di satu sisi, ada euforia yang memusingkan, sebuah kelegaan luar biasa yang nyaris membuatnya tertawa histeris di tengah jalan. Ia bebas. Bebas dari belenggu kemiskinan yang selama ini meremukkan tulang dan martabatnya. Hinaan keluarga Hutama tadi malam, yang sebelumnya terasa seperti luka menganga, kini terasa jauh dan remeh, seperti kenangan dari kehidupan orang lain.
Namun di sisi lain, ada rasa takut yang begitu pekat hingga membuat perutnya mual. Ini bukan lotere. Ini bukan warisan. Ini adalah anomali, sebuah sobekan dalam tatanan realitas yang hanya terjadi padanya. Orang-orang akan bertanya. Pemerintah akan curiga. Bagaimana ia bisa menjelaskan asal-usul uang ini? “Permisi, Pak, kalung kujang peninggalan leluhur saya sepertinya anti-redenominasi.” Mereka akan menganggapnya gila, atau lebih buruk lagi, seorang penipu ulung yang memanfaatkan kekacauan ekonomi.
Berdiri di trotoar yang ramai, dengan suara klakson dan keluhan orang-orang tentang uang baru, Gara tahu ia tidak bisa kembali ke kamar kosnya. Tempat itu terlalu terbuka, terlalu penuh dengan mata dan telinga. Ia adalah anomali yang berjalan, dan ia butuh tempat untuk bersembunyi, untuk berpikir.
Hotel.
Pikiran itu muncul begitu saja. Sebuah hotel yang bagus, yang cukup mewah sehingga para stafnya tidak akan peduli atau bertanya banyak selama tagihannya dibayar. Dengan pikiran itu, Gara mulai berjalan. Ia sengaja memilih bank terbesar di pusat kota, sebuah gedung pencakar langit yang menjulang angkuh, seolah menantang awan. Di sinilah langkah pertamanya harus diambil.
Memasuki lobi bank yang megah dan dingin itu adalah sebuah ujian mental. Gara, dengan jaket lusuh, celana jins pudar, dan sepatu kets yang solnya mulai menipis, menjadi pusat perhatian yang tak diinginkan. Satpam menatapnya dengan curiga dari atas ke bawah. Para nasabah berpenampilan necis meliriknya sekilas dengan tatapan merendahkan. Pemandangan ini terlalu familiar, namun kali ini ada yang berbeda. Gara bukan lagi pengemis yang menyasar ke istana. Ia adalah sang raja yang sedang menyamar.
Ia mendekati meja resepsionis layanan prioritas, jantungnya berdebar. "Selamat pagi, Mbak. Saya mau buka rekening," ujarnya, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar.
Wanita di belakang meja itu mengangkat alisnya sedikit, senyum profesionalnya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Baik, Pak. Untuk nasabah prioritas, setoran awal minimum adalah lima ratus juta rupiah..." Ia berhenti, seolah memberi Gara kesempatan untuk pergi dengan malu.
"Saya tahu," jawab Gara tenang. "Saya mau memindahkan seluruh dana saya dari rekening lama ke rekening baru."
Kini wanita itu benar-benar menatapnya. Ada keraguan di matanya. "Boleh saya lihat kartu identitas dan kartu debit Bapak?"
Gara menyerahkannya. Setelah beberapa kali mengetik di komputernya, ekspresi wanita itu berubah drastis. Senyumnya yang tadi kaku kini menjadi lebih tulus. Matanya melebar saat melihat angka di layarnya. Ia segera mengangkat telepon.
"Pak Manajer, ada nasabah yang perlu konsultasi segera. Sangat penting."
Seorang manajer berperut buncit dengan setelan jas mahal keluar dari ruangannya. Setelah melihat data Gara di komputer, ia langsung menyambut Gara dengan hangat, sama sekali tidak peduli lagi pada penampilannya yang kumal.
"Selamat datang, Pak Gara! Silakan, mari ke ruangan saya. Anggap saja rumah sendiri."
Di dalam ruangan ber-AC yang sejuk dengan sofa kulit empuk, Gara akhirnya menceritakan sebuah cerita yang sudah ia rangkai di kepalanya selama perjalanan. Ia tidak menyebutkan soal kalung kujang. Ia hanya mengatakan bahwa ia menyadari adanya "keanehan" atau "glitch" pada sistem yang entah bagaimana membuat saldonya tidak ikut terdenominasi. Ia mengaku bingung dan sedikit takut, dan ia datang ke bank untuk bersikap kooperatif dan mencari solusi terbaik agar tidak menimbulkan masalah hukum di kemudian hari.