Sang pewaris

BT family
Chapter #5

Tiga warisan hilang

Keheningan yang mengikuti penyingkapan di layar televisi itu terasa lebih berat daripada beton. Di kamar suite yang mewah itu, dua dunia Gara telah bertabrakan dengan dahsyat: masa lalunya yang personal dan penuh luka, dengan masa lalu leluhurnya yang kelam dan misterius. Keduanya kini memiliki satu wajah yang sama, wajah Rian Suryo.

"Itu dia orangnya," bisik Gara, suaranya serak. Ia tidak melepaskan pandangannya dari layar, seolah mencoba membakar citra Rian Suryo ke dalam benaknya. "Wajah dalam penglihatan itu... saat aku memegang kujang... Itu dia, Ga. Lebih muda, tapi itu pasti dia."

Raga berdiri di sampingnya, rahangnya mengeras. Pragmatisme dan ketenangan jalanannya mengambil alih. "Oke," katanya dengan suara mantap, memecah ketegangan. "Ini mengubah segalanya. Rencana kita buat langsung ke Indramayu sekarang terlalu berisiko. Itu sama saja masuk ke kandang singa tanpa tahu di mana letak taringnya."

Gara akhirnya berpaling dari televisi, matanya menyiratkan badai emosi. "Lalu kita harus bagaimana? Diam di sini sementara dia—"

"Tidak," potong Raga. "Kita tidak akan diam. Kita akan melawan. Tapi kita tidak bisa melawannya sebagai dua anak panti asuhan. Untuk melawan monster korporat seperti dia, kita harus menjadi monster yang lebih besar. Kita tidak bisa hanya bertahan, Gar. Kita harus menyerang."

Sebuah ide mulai terbentuk di mata Raga, sebuah strategi yang lahir dari insting bertahan hidup dan ambisi yang baru ditemukan. "Orang seperti Rian Suryo dan mertuanya, si Hutama itu, apa yang paling mereka takuti? Bukan preman. Bukan polisi. Yang mereka takuti adalah kehilangan kekayaan dan kekuasaan. Jadi, di situlah kita akan menghantam mereka."

Ini adalah titik baliknya. Rasa takut yang melumpuhkan Gara perlahan surut, digantikan oleh sesuatu yang lebih tajam dan lebih panas: tujuan. Balas dendam bukan lagi sekadar emosi sesaat; itu telah menjadi sebuah cetak biru.

Mereka menghabiskan sisa malam itu bukan dengan ketakutan, melainkan dengan perencanaan yang cermat. Gara, sebagai target utama, akan menjadi kekuatan di balik layar, sang arsitek dengan modal tak terbatas—Shadow CEO. Raga akan menjadi wajahnya, perisai sekaligus ujung tombak, sang Presiden Direktur.

Dengan bantuan firma hukum termahal, mereka mendirikan "Agni Dynamics". 'Agni', dewa api, melambangkan api kemarahan dan semangat mereka yang siap melahap apa pun yang menghalangi jalan. Strategi mereka sederhana namun brutal: Akuisisi. Mereka akan menjadi raksasa dalam semalam.

Target pertama mereka, perusahaan software "Logistik Cakra", berhasil mereka taklukkan. Raga, dalam balutan setelan Armani dan dibimbing oleh Gara melalui earpiece, memberikan penawaran yang mustahil ditolak. Dalam satu hari, Agni Dynamics resmi menjadi pemain baru di dunia korporat.

Lihat selengkapnya