Sang Primadona

R.J. Agathias
Chapter #2

Bab 01 - Si Gadis Rapuh dan Penolongnya

Langit malam telah membungkus halaman Veridian High School dengan kelembutan nostalgia. Lampu-lampu gantung berpendar kekuningan, menari di antara angin dan kenangan. Musik klasik dari sudut aula mengalun pelan, seolah-olah takut mengganggu percakapan-percakapan yang hanya bisa terjadi setelah waktu melewati tiga dekade.

Di sudut meja bundar berlapis linen putih, Dorona Maharani duduk tenang. Gaun panjangnya berkilau samar di bawah cahaya lampu gantung. Ia memegang gelas anggur—bukan sebagai pelarian, tetapi sebagai properti dari sebuah panggung yang selalu ia kuasai. Pandangannya menyapu ruangan perlahan. Ia mengenali beberapa wajah, melupakan sebagian lainnya. Namun, ia tetap tersenyum seperti biasa.

Seseorang menarik kursi di sebelahnya. Tanpa banyak suara. Tanpa sapaan basa-basi.

“Masih suka menikmati pesta seperti ini?” tanya pria itu pelan.

Dorona menoleh sekilas. Tatapannya tenang. Pria itu mengenakan setelan jas gelap yang sedikit kusut, seolah-olah datang bukan untuk merayakan, tetapi untuk memastikan sesuatu. Malik Zahari.

“Masih suka duduk diam dan mengamati seperti dulu, ya?” balas Dorona sambil menyesap minumannya.

Malik menatapnya lekat-lekat, seperti sedang mencari seseorang di balik wajah yang familiar, tetapi terasa asing. Ada sesuatu yang tidak bergerak di balik tatapan itu.

“Tiga puluh tahun, Dorona. Tapi kamu tetap terlihat seperti panggung selalu memelukmu.”

“Dan kamu tetap seperti mata yang tidak pernah tidur,” jawabnya lembut. Bibirnya melengkung tipis, tetapi tidak semua senyum adalah cermin kebahagiaan.

Sejenak mereka diam. Musik terus bermain, tawa orang-orang mengisi ruangan, tetapi di antara mereka ada ruang kosong yang tidak terisi oleh waktu.

“Masih mengingat Rani Sumarni?” tanya Malik tiba-tiba.

Dorona tidak menjawab. Ia hanya mengangkat alis sedikit, lalu menunduk sebentar, seolah-olah menyapa nama itu dengan kesopanan yang tidak diucapkan.

“Gadis itu … dulu sering duduk di bawah tangga belakang gedung barat. Suka menulis di buku kecil. Jarang bicara. Tak punya banyak teman.”

“Orang seperti itu mudah dilupakan,” ucap Dorona pelan. “Apalagi kalau dia sendiri ingin dilupakan.”

Malik menghela napas. Tangannya meraih gelasnya sendiri, tetapi tidak menyentuh minuman di dalamnya.

“Tapi aku tak pernah lupa,” gumamnya. “Aku tahu siapa yang kamu mainkan sekarang. Nama, gaya bicara, senyummu … semua dirancang dengan sempurna. Tapi kamu bukanlah dia.”

Kalimat itu jatuh seperti jarum ke dalam kolam yang hening. Tidak menghebohkan, tetapi riaknya mengganggu permukaan.

Dorona tidak menjawab. Ia hanya memiringkan kepala, menyentuh bibir gelasnya, lalu menyesap pelan. Tatapannya lurus ke depan, tidak pada Malik, tidak pada siapa-siapa.

Senyum kecilnya muncul kembali. Tenang, elegan, tidak tergoyahkan. Ia bukan menyangkal, hanya merasa tidak perlu membenarkan.

 

14 Februari 1989—Gudang Belakang Sekolah Veridian

Lihat selengkapnya