Beberapa hari setelah kejadian di gudang belakang, sekolah berjalan seperti biasa. Maksudnya—biasa untuk orang lain. Namun, bagi Rani Sumarni, setiap langkah di koridor seperti meniti papan sempit di atas lautan bisik-bisik.
Langkahnya pelan, selalu menyusuri sisi tembok, seolah-olah ia bagian dari dinding itu sendiri. Seragamnya selalu rapi, tetapi warnanya sedikit pudar karena sering dicuci. Sepatunya bersih, tetapi usang. Rambutnya masih dikepang dua, rapi, dan kaku, seperti ia sedang berusaha berkata, “Aku tidak menuntut jadi cantik. Aku hanya ingin tidak mengganggu.”
Cermin di rumah jarang menatapnya lama. Ia tidak punya banyak alasan untuk bercermin.
Rani tinggal di rumah sempit berdinding semen abu, di atas toko kelontong milik pamannya—Pak Warto, adik ibunya. Sejak ayahnya meninggal ketika ia masih balita dan ibunya pergi entah ke mana, Rani tumbuh dari belas kasih. Pak Warto bukan orang keras, tetapi jelas bukan pula orang yang punya waktu membelai trauma.
Akan tetapi, Rani tidak pernah menuntut. Ia hanya minta cukup: cukup listrik untuk membaca, cukup makanan untuk tidak pingsan, cukup tempat tidur untuk menyimpan mimpi dan itu sudah lebih dari cukup baginya.
Di sekolah, ia tahu dirinya bukan bagian dari dunia “itu”—dunia yang penuh kosmetik mahal, tawa di kantin, dan geng cewek-cewek dengan rok digulung dan rambut diluruskan. Rani selalu merasa seperti kertas buram di antara lembaran majalah mengkilap.
Ketika ulangan matematika, ia selalu mendapat nilai sempurna. Namun, justru itulah yang membuatnya semakin dijauhi.
“Rani mah pelit banget dicontekin.”
“Katanya sih pinter, tapi gayanya kayak kutu jembatan.”
“Hati-hati, cowok-cowok yang ngasih perhatian, nanti dibilang ditaksir balik.”
Gosip-gosip itu tidak menyakitkan karena kata-katanya. Yang menyakitkan adalah karena mereka tidak peduli ingin mengenalnya. Seolah-olah siapa pun yang tidak berkilau, tidak pantas ditatap lebih dari satu detik.
Lalu, yang paling membuat Rani hancur adalah ketika ia mencoba membuka diri dan dunia menertawakannya.
Apakah dari kecil ia dikutuk untuk tidak memiliki teman?
Rani pernah bertanya hal itu saat malam sunyi, memandangi langit-langit kamarnya yang retak.
Dia juga pernah mencoba tertawa sendiri, pura-pura membayangkan skenario di mana seseorang benar-benar ingin duduk dengannya, tanpa ingin menertawakan, mencontek, atau merasa kasihan.
Di antara semuanya, hanya satu wajah yang masih bersikap ramah … Dorona Clarissa. Si gadis sempurna yang tidak pernah benar-benar dekat … tetapi juga tidak pernah menyakitinya.
Kadang Rani bertanya—apakah Dorona sungguh baik? Ataukah ia hanya terlalu sopan untuk mengusir?