Sang Primadona

R.J. Agathias
Chapter #4

Bab 03 - Senyum yang Tak Dimengerti

Rapat OSIS siang itu digelar di ruang seni yang disulap menjadi tempat diskusi. Langit-langit kayu yang rendah dipenuhi lukisan cat minyak dan lampu gantung kecil. Di salah satu sisi meja persegi panjang duduk Clarissa, perwakilan dari kelas 10, mengenakan blazer OSIS dan pita kecil biru di kerah seragamnya.

Suaranya tenang dan seperti biasa, membawa aura percaya diri yang membuat orang diam untuk mendengarkan.

“Jadi, mengenai program Valentine yang sudah dijadwalkan OSIS tahun ini,” ucap Clarissa sembari memaparkan daftar kegiatan, “kami mengusulkan diadakannya Vote Ratu Cantik Veridian. Tapi … tidak hanya berdasarkan fisik.”

Beberapa kepala mulai saling berpandangan. Beberapa tersenyum kecil. Yang lain sudah bisa menebak arah diskusi ini akan ke mana.

Clarissa tetap melanjutkan dengan nada sopan.

“Kami ingin mendobrak citra bahwa ‘cantik’ itu hanya soal wajah dan penampilan luar. Justru kami ingin menekankan bahwa kecantikan perilaku, cara berbicara, cara berpikir, dan bagaimana seseorang menghargai dirinya dan orang lain—itu yang lebih penting.”

Beberapa anggota OSIS mulai bersuara.

“Tapi Ris, kontes kayak gini dari dulu ya emang soal fisik kan. Orang-orang juga milih yang emang cakep.”

“Iya, gimana pun juga, tampilan luar tetap dilihat duluan.”

“Kalau kita buka pendaftaran ke semua siswi, nanti yang daftar aneh-aneh loh, Ris.” Tawa kecil terdengar. “Jangan sampai malah jadi bahan ketawaan.”

Clarissa tidak tersinggung. Ia hanya tersenyum sedikit. Namun, matanya sedikit menelisik tajam.

“Justru karena itu kita harus mulai mengubah cara pandang itu, kan?” katanya pelan.

“Cantik bukan milik segelintir orang. Kita yang salah, karena terlalu lama diajarkan bahwa wajah lebih penting daripada isi kepala dan cara bicara.”

Ia melirik daftar kriteria yang disodorkan ketua OSIS.

“Kalau memang ini kontes dari sekolah, biarlah sekolah menunjukkan sikap bahwa perempuan gak harus putih, langsing, dan berdandan mahal agar bisa disebut ‘layak’.”

Hening. Sekilas, udara di ruangan itu berubah lebih berat. Beberapa remaja laki-laki tampak tidak nyaman. Beberapa perempuan terlihat berpikir keras—antara setuju dan takut jadi berbeda.

Akan tetapi, Clarissa sudah menanamkan satu hal penting di ruangan itu. Bahwa standar lama patut dipertanyakan.

Meeskipun dia tahu akan banyak yang mencibir di belakangnya nanti, Clarissa sudah terbiasa berdiri sendiri.

Setelah rapat usai, Clarissa keluar ruangan bersama beberapa anggota OSIS lainnya. Namun, matanya sempat melirik ke arah koridor kelas 10A. Di sana, lewat pintu yang terbuka sedikit, ia melihat punggung seorang gadis duduk diam, membaca buku sendirian.

Rani Sumarni.

Seorang yang mungkin tidak pernah tahu bahwa dirinya sedang diperjuangkan diam-diam. Clarissa sempat tersenyum kecil, tetapi bukan senyum kemenangan—melainkan senyum getir.

Lihat selengkapnya