Sang Primadona

R.J. Agathias
Chapter #5

Bab 04 - Ruang yang Tidak Pernah Penuh

Tanggal 21 Februari 1989. Aula Serbaguna Veridian High School dipenuhi hiasan pita merah muda dan lampion kertas. Di sudut-sudutnya, papan bertuliskan “Valentine Appreciation Week” dipajang berdampingan dengan daftar kegiatan, termasuk acara puncak: Pemilihan Ratu Cantik Veridian.

Tahun ini berbeda. Ada satu perbedaan kecil yang justru mengundang kehebohan besar.

Clarissa berdiri di atas panggung kecil dengan latar kain satin merah. Di tangannya ada satu map putih berisi daftar nama-nama peserta kontes yang telah disaring lewat dua jalur: pendaftaran pribadi dan rekomendasi OSIS.

Suaranya lembut tetapi mantap, terdengar jelas dari pengeras suara sekolah.

“Seperti yang sudah disepakati, pemilihan tahun ini tidak hanya mempertimbangkan fisik semata.

Kami menilai integritas, cara bicara, pencapaian akademik, hingga pengaruh sosial di lingkup sekolah. Karena itulah, kami membuka jalur rekomendasi bagi kandidat-kandidat yang mungkin belum pernah menganggap dirinya cukup ‘cantik’, tapi sesungguhnya memiliki kecantikan yang lain.”

Beberapa siswa mulai berbisik.

Beberapa siswi saling melirik.

Mereka menunggu nama-nama seperti Angelica dari kelas 11, atau Fiona si ketua cheerleader. Namun, ketika Clarissa menyebut “... dan dari kelas 10A, saudari Rani Sumarni.”

Segalanya berubah. Ruangan langsung riuh.

“Apaan? Rani? Yang kutu buku itu?”

“Serius? Dia masuk daftar kontes?”

“Jangan-jangan Clarissa salah baca!”

Rani yang berdiri di dekat pintu aula, hanya ingin menonton sebagai penonton biasa, langsung membeku di tempatnya. Matanya membulat, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia tidak melangkah. Tidak berkata. Tidak bernafas pun rasanya lupa caranya.

Clarissa tetap tersenyum anggun di atas panggung. Tidak satu pun gugup tergambar di wajahnya.

Ia hanya berkata, “Kami percaya bahwa setiap nama yang kami pilih mewakili wajah Veridian yang sesungguhnya.”

Tepuk tangan pun terdengar, sebagian tulus, sebagian ragu, sebagian karena mengikuti arus saja.

Sementara itu, dari sudut aula, para siswi penggosip menyeringai sambil membisikkan nada-nada jahat.

“Nanti dia jatuh di panggung kali, biar semua orang tahu batasnya.”

“Lucu juga sih, kita punya ratu yang make up-nya cuma bedak bayi dan pensil 2B.”

Rani tidak mendengar seluruhnya, tetapi ia bisa merasakannya. Ruang itu dipenuhi suara, tetapi tetap tidak mengisi kekosongan dalam dirinya.

Ia masih berdiri diam dan untuk pertama kalinya, semua mata memandangnya—bukan untuk menertawakan ulangan sempurna, bukan untuk mencontek PR, bukan karena dia lewat di lorong, melainkan karena dia disebut. Disebut oleh Clarissa.

Rani tidak tahu apakah itu berkah baginya atau sebuah kutukan.

Rani menunggu sampai aula sepi. Ia menunggu hingga sorakan reda, hingga langkah-langkah siswa menjauh, hingga hanya terdengar suara angin yang menggesek dedaunan di luar jendela.

Lihat selengkapnya