Sang Primadona

R.J. Agathias
Chapter #6

Bab 05 - Jangan Menaruh Harapan Pada Manusia

Tanggal 28 Februari 1989. Matahari siang menggantung di atas langit Langkarsa, menyinari lapangan Veridian High School yang telah disulap menjadi panggung semi-resmi beralas karpet merah, berkanopi putih, dan dihiasi hiasan kertas berbentuk hati dan bunga.

Para siswa memadati kursi penonton. Suara-suara bergaung, saling tumpang tindih, sebagian menyoraki kegembiraan, sebagian lagi sekadar penasaran. Di atas panggung, satu per satu peserta kontes memperlihatkan kemampuan mereka.

Ada yang menyanyi dengan suara merdu. Ada yang menari tarian daerah dengan luwes. Ada pula yang memainkan alat musik dengan kepiawaian mencolok.

Tidak sedikit yang tampil dengan gaun cantik dan tata rias sempurna, memukau mata sejak langkah pertama. Tepuk tangan meriah. Sorak sorai. Pujian keras.

Semua seolah-olah sudah sesuai ekspektasi … yang cantik harus sempurna.

Di belakang panggung, Rani Sumarni menunggu gilirannya. Ia hanya mengenakan seragam sekolah yang disetrika rapi, rambut dikepang dua seperti biasa. Wajahnya polos tanpa riasan berat—hanya sedikit bedak, pelembap bibir, dan semangat yang ia usahakan tetap menyala.

Clarissa menyempatkan diri menghampiri sebelum giliran Rani tiba.

“Kamu siap?” tanyanya lembut.

Rani mengangguk kecil. “Aku nggak berharap untuk menang, Clar.”

Clarissa tersenyum samar. “Iya. Yang penting tunjukkan saja bahwa kamu pantas dilihat. Karena dunia selalu melihat dan yang punya mata jernih akan tahu bagaimana cara menilaimu.”

Kini, giliran Rani naik ke panggung. Tidak ada musik keras. Tidak ada spotlight. Ia hanya berjalan tenang, berdiri di tengah, lalu tersenyum kecil.

“Saya tidak membawa alat musik atau tarian. Tapi saya ingin menunjukkan apa yang menurut saya paling sering kita abaikan yaitu cara bicara yang baik.”

Salah satu juri tersenyum dan memberi isyarat.

“Kami akan berikan pertanyaan acak. Jawab sesuai pemikiranmu, ya?”

Pertanyaan pun dilontarkan,

“Apa arti kecantikan bagi perempuan seusiamu?”

“Menurut saya, kecantikan bukan sesuatu yang bisa dibentuk dari luar, tetapi dari dalam dan hanya bisa dirawat dengan cara hidup yang jujur. Cantik bukan tentang bagaimana orang lain melihat kita, tetapi bagaimana kita melihat diri sendiri tanpa membenci bayangan di cermin.

Bagi saya, perempuan yang cantik adalah perempuan yang tahu kapan harus diam, kapan harus bicara, dan tetap lembut meski dunia bersikap kasar padanya.”

Suasana hening sesaat, mencoba menyimak pertanyaan dan jawaban apa yang akan Rani lontarkan berikutnya. Apakah masih konsisten.

“Apa yang ingin kamu ubah dari budaya sekolah kita?”

“Saya ingin kita berhenti menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat di permukaan. Karena banyak dari kami yang belajar dalam diam, berjuang tanpa sorak, dan bermimpi tanpa tahu caranya meminta dukungan.

Kalau sekolah ini bisa jadi tempat yang aman untuk orang-orang seperti itu—yang tak bersinar terang, tapi menyala pelan—maka saya yakin tidak akan ada lagi siswa yang merasa tidak cukup baik hanya karena tidak cukup populer.”

Jawaban kedua ini cukup menyinggung para pengganggu yang bersembunyi dalam keramaian penonton. Matanya menilai bahwa itu adalah pernyataan perang.

Beberapa juri mengangguk-angguk, lalu melanjutkan ke pertanyaan terakhir.

“Apa yang membuat seseorang layak dihormati?”

“Seseorang layak dihormati bukan karena siapa dia, tetapi karena bagaimana dia memperlakukan orang yang tidak bisa membalas apa pun.

Lihat selengkapnya