Sang Surya dan Doa Yang Tertinggal di Laut

Oktonawa
Chapter #1

Bungkusan di Celah Karang #1

Catatan Zuhal, Halaman Pertama.

Aku melihatnya pertama kali saat matahari sekarat ditelan gelap.

Cahaya senja merosot perlahan di langit Pantai Sadranan, melukis awan dengan jingga pucat menyerupai darah kering. Dan angin sore seperti yang kita tahu, ia tidak pernah datang dengan santun di desa pesisir ini. Ia menampar wajahku berulang kali, membawa partikel garam dan pasir halus yang lengket di kulit. Aku menyipitkan mata, menahan perih akibat debu karang yang beterbangan, sementara ujung sepatuku perlahan amblas ke dalam pasir putih berbuih.

Duniaku saat itu adalah kekonyolan yang tercetak di atas kertas HVS. Aku berdiri dua belas langkah dari bibir ombak, meremas map plastik merah muda di tangan kanan. Di dalamnya terdapat setumpuk proposal Kuliah Kerja Nyata. Ada matriks jadwal, analisis potensi desa, data demografi berwujud grafik batang, dan deretan jargon sosiologi yang dahulu kuanggap sanggup menyelamatkan umat manusia dari kemiskinan.

Tiga hari terbelengu di posko berbau kapur barus tengik telah menumpulkan kepalaku. Sore ini aku keluar dengan dalih observasi partisipatoris awal. Sebuah alibi akademis agar aku bisa lari sejenak dari omong kosong teman-temanku. Aku datang ke pantai untuk mencari udara segar, atau mungkin mencari pembenaran atas kehadiranku di desa terpencil ini. Untuk apa aku di sini?

Namun, lautan di depanku menolak menjawab. Samudra Hindia bergulung angkuh. Derunya memukul barisan batu karang hitam di ujung teluk hingga pecah menjadi buih putih. Alam di sini sangatlah luhur, terlalu liar untuk dijinakkan tabel program kerjaku.

Di tengah keangkuhan alam itulah, mataku menangkap keganjilan.

Sesosok manusia kerdil berada di atas batu karang hitam yang lidahnya menjorok paling jauh ke laut lepas. Sosok itu terlalu kecil untuk berada di sana. Batuan karang yang licin dan berlumut, terus-menerus dihantam ombak dari tiga sisi, namun ia duduk diam tak bergeming.

Aku melangkah hati-hati. Sepatuku berderit menekan pasir. Mataku terpaku pada sosok itu—seorang anak laki-laki. Usianya mungkin baru tujuh atau delapan tahun. Tubuhnya sangat kurus, terbalut kaus oblong lusuh pudar yang kedodoran hingga menutupi separuh celana pendeknya. Rambutnya kaku dan lengket terpapar garam laut. Ia memeluk kedua lutut, menatap lurus ke arah cakrawala yang mulai menggelap.

Aku menghentikan langkah. Tiba-tiba aku merasa seperti penyusup. Ada kesakralan pekat yang membungkus anak itu, sesuatu yang memaksaku menahan napas. Ia tidak menangis, meratap, atau memanggil siapa pun. Ia hanya menatap lautan, tetapi matanya berbicara dengan volume memekakkan telinga. Dari jarak dua belas langkah di belakangnya, kulihat bahu kecil itu naik-turun tidak teratur. Itu bukan tarikan napas seseorang yang sedang menikmati pemandangan, melainkan seperti napas sesak, napas yang menahan rasa sakit agar tidak meledak dari dalam dada.

Ombak kembali datang. Gelombang raksasa menghantam dasar karang tempatnya berjejak. Cipratan air laut meloncat tinggi, mengguyur punggung dan kepalanya. Anak itu bahkan tidak berkedip. Ia mengabaikan dingin yang pasti menusuk tulangnya. Tangannya yang kurus perlahan merogoh saku celana pendeknya. Ia mengeluarkan sesuatu, sebuah bungkusan kecil seukuran kepalan tangan orang dewasa, terbuat dari kertas koran bekas yang dilipat seadanya.

Aku menjulurkan leher, mencoba menembus kabut air laut. Anak itu membuka telapak tangannya, menatap bungkusan koran lusuh itu seolah ia adalah benda paling berharga di dunia. Angin laut bertiup makin kencang, membuat kaus kedodorannya berkibar liar. Namun, tangannya sangat kukuh. Ia melindungi bungkusan itu dari tampias ombak menggunakan tubuh kecilnya sebagai tameng.

Posisinya berubah menjadi setengah berlutut. Tangannya meraba permukaan batu karang di dekat ujung kakinya, mencari celah sempit—ceruk alami yang terbentuk dari kikisan ombak bertahun-tahun. Dengan gerakan penuh takzim, ia meletakkan bungkusan koran itu ke dalam ceruk. Ia mendorongnya lebih dalam agar tepian kertasnya terjepit kuat dan tidak terbang terbawa angin.

Lihat selengkapnya