Aku tidak hadir saat perahu itu hancur lebur. Aku pun tidak menyaksikan raut Mbok Inah ketika sisa papan kayu biru itu diletakkan di lantai tanah rumahnya. Segala yang kutulis di halaman ini adalah jalinan memori yang kukumpulkan berbulan-bulan kemudian. Aku memungutnya dari sisa abu kretek Pak RT di warung Bu Anik, dari gumaman Kang Maman di pelelangan ikan, dan dari tatapan kosong Mbok Inah saat menguliti garis laut yang membelah desanya.
Sebagai orang luar, aku menjahit serpihan ingatan warga. Aku membangun ulang rupa sebuah rumah saat atapnya belum runtuh—tepat setahun sebelum kakiku menjejak karang Sadranan. Setiap detail obrolan di lincak bambu itu kususun kembali dari rekaman ingatan Mbok Inah. Sebuah memori yang ia jaga lebih ketat dari nyawanya sendiri. Sebuah kenangan yang tidak akan pernah dapat ia lupakan.
Dari cerita di warung Bu Anik, nama Kasman tidak pernah diucapkan sembarangan. Pak RT bersaksi bahwa pria itu bukan sekadar nelayan. Bagi orang-orang Sadranan, Kasman adalah kepanjangan tangan laut itu sendiri. Tangannya menebal oleh kapalan, penuh bekas sayatan benang nilon akibat bertarung dengan pari raksasa. Ia tidak butuh prakiraan cuaca dari televisi di balai desa. Kasman dapat mencium datangnya badai dari arah terbang camar dan suhu angin yang menghujam tengkuk.
Kata mereka, Kasman membenci kekalahan. Saat awan menggulung hitam dan nelayan lain bergegas menambatkan perahu, Kasman justru merapatkan simpul layar. Ia menantang samudra seolah lautan berutang nyawa padanya. Namun, sekeras apa pun urat leher Kasman, ia tunduk pada satu hal: tembakau. Bukan rokok pabrikan berpita cukai, melainkan tembakau rajangan kering. Itu adalah warisan—ritual mutlak yang diturunkan ayahnya, Mbah Roso.
Mbah Roso sudah lama mati, terkubur di bukit karst penuh semak berduri di belakang desa. Namun, ajarannya tetap hidup di ujung jari jempol dan telunjuk Kasman. Diceritakan, pada saat Kasman remaja, Mbah Roso sering duduk bersila di beranda limasan tua. Limasan yang sama, yang puluhan tahun kemudian dipinjamkan kepala dusun untuk menjadi posko tempatku dan teman-temanku mengeluhkan ketiadaan sinyal internet.
Di beranda itu, Mbah Roso biasa menggelar daun pisang layu. Di atasnya menumpuk tembakau kuning kecokelatan hasil panen kemarau.
"Pilih yang bunyinya kresek kalau diremas." Suara Mbah Roso selalu parau, berat oleh usia dan asap.
Kasman muda hanya memperhatikan dalam diam.
"Itu tanda garing," lanjut Mbah Roso. Tangan keriputnya mengambil sejumput tembakau, meletakkannya hati-hati di atas kertas papir tipis. "Kalau lembap, baunya apek. Laut tidak suka bau apek."
Kasman memahat aturan itu di kepalanya. Bertahun-tahun kemudian, rutinitas itu berpindah ke tangannya. Bagi nelayan Sadranan, laut bukanlah hamparan air asin tempat mencari makan, melainkan Dewata kuno yang bernapas—makhluk besar yang bisa kelaparan, marah, dan sewaktu-waktu menagih bayaran. Tembakau adalah cara Kasman berdamai dengan raksasa itu.
Ia tidak pernah berani mendorong perahu menyentuh air tanpa mengisap lintingan daun kering tersebut. Asap tebalnya adalah jangkar. Saat ombak malam mengombang-ambingkan perahu di tengah kegelapan pekat, bau asap itu mengingatkannya pada daratan. Mengingatkannya pada rumah, pada aroma masakan Mbok Inah, serta pada Surya dan Bulan.
***
Setahun lalu, Surya masih berusia enam tahun. Setiap sore, tepat sebelum matahari menyentuh garis air, Surya memiliki tempatnya sendiri: duduk tegak di atas lincak bambu reyot di depan rumah. Kakinya yang kecil dan penuh bekas gigitan nyamuk berayun menggantung. Matanya yang bulat menguliti setiap gerak tangan besar bapaknya.
Sore itu laut Sadranan sangat tenang, nyaris menyerupai permukaan danau. Tak ada tanda bahaya di langit. Kasman duduk di sebelah Surya. Di pangkuannya terdapat kaleng biskuit berkarat. Tentu tidak ada kue kering di sana, bahkan tidak ada juga rengginang. Karena di sana tersimpan sisa tembakau garing terakhir. Tangan Kasman mencubit sedikit gulungan daun tersebut. Bunyinya berderik pelan. Kering sempurna. Jari jempol dan telunjuknya menggulung kertas papir dengan gerakan cepat—kebiasaan puluhan tahun yang tidak butuh pemikiran. Ujung bibirnya membasahi sedikit tepi kertas agar menempel rapat.
Surya tidak pernah berkedip. Ia menyerap setiap detail adegan itu. Ia menyukai aroma yang menguar dari kaleng karatan tersebut—bau tanah kering dipanggang matahari, daun mati, dan keringat bapaknya yang menenangkan.