Sang Surya dan Doa Yang Tertinggal di Laut

Oktonawa
Chapter #3

Peta Satelit dan Kapur Barus #3

Dulu aku percaya semua hal bisa dijelaskan dengan data. Tiga hari sebelum aku melihat bocah itu, keyakinan tersebut masih utuh. Atau setidaknya, aku mengira demikian.

Hari itu, pada 2015, SUV tua sewaan kami mengerang kasar. Pak Moko, sopir kami yang perutnya sedikit buncit, menghentak tuas persneling. Jalan aspal mulus telah habis, berganti lintasan batu kapur tajam dan tanah liat berdebu. Guncangan keras berkali-kali membenturkan kepalaku ke kaca jendela.

Pak Moko tak peduli. Ia terus mengisap kretek dalam diam. Matanya menatap lurus menembus kaca kotor berlapis sisa lumpur kering. Baginya, kami bertiga hanyalah paket bernyawa yang harus diantar ke ujung dunia. Begitu tugas selesai, ia akan putar balik, kembali ke peradaban.

Di sebelahku, Danar bersandar dengan wajah pucat. Matanya terkunci pada layar ponsel, tak memedulikan hamparan bukit karst di luar jendela. Perhatiannya hanya tertuju pada sudut kanan atas layar. Batang sinyal di sana rontok satu per satu. Saat tanda silang merah akhirnya muncul, Danar memaki pelan. Kiamat kecilnya baru saja dimulai. Koneksinya mati.

Di bangku depan, Bima duduk dengan postur tegak yang menyebalkan. Kemejanya terkancing rapi hingga pangkal leher. Kedua tangannya mencengkeram erat tabung plastik hitam berisi gulungan peta desa dari citra satelit resolusi tinggi. Ia mencetaknya di kota dengan biaya sepadan uang makan kami sebulan penuh.

Bima adalah ketua kelompok kami. IPK-nya nyaris bulat sempurna. Tipe mahasiswa yang selalu duduk di baris terdepan, menampung setiap ludah dosen, dan menjadikan kurva statistik sebagai kitab suci. Baginya, Kuliah Kerja Nyata di Desa Sadranan bukanlah pengabdian. Ini panggung teater—sebuah proyek simulasi yang akan dicetak tebal-tebal di lembar riwayat hidupnya kelak.

Aku duduk di kursi belakang, mengamati mereka berdua. Kelompok KKN Mandiri kami hanya terdiri atas tiga orang.

Aku memilih desa paling pelosok ini bukan karena peduli pada masyarakat pesisir. Aku ke sini untuk lari. Teman-teman kampus mengira hidupku sempurna. Orang tua mapan, tabungan selalu penuh. Namun, mereka tidak tahu wujud rumahku yang sebenarnya.

Rumah bertingkat di kota itu berlapis marmer yang selalu mengilap, tetapi udaranya sedingin lemari es mati. Boro-boro bertengkar, sekadar bertatap muka pun ayah dan ibuku nyaris tak punya waktu. Masing-masing sibuk mengunci diri di balik pintu ruang kerja. Di atas kertas, kami adalah keluarga utuh. Namun, kami tercerai-berai di meja makan.

Aku butuh pelarian, dan Sadranan tampak seperti tempat sembunyi yang sempurna.

Mobil akhirnya berhenti. Debu tanah liat mengepul membungkus ban. Pak Moko mematikan mesin.

"Sampai," katanya pendek.

Kami turun. Udara panas seketika membakar leher. Matahari pesisir tidak sekadar bersinar, ia menyengat. Pak Karyo, kepala dusun setempat, sudah menunggu di balai desa. Pensiunan guru itu mengenakan kemeja batik yang dimasukkan rapi ke dalam celana bahan. Bahasanya formal, terlampau kaku untuk ukuran orang pesisir. Ia menjabat tangan kami satu per satu. Matanya berbinar, seakan menatap dewa penolong yang turun dari langit membawa bongkahan emas.

Beliau berpidato panjang lebar tentang harapan desa, program pembangunan, dan kebanggaannya menerima mahasiswa-mahasiswa pintar dari kota. Bima membalas pidato itu tak kalah kakunya. Ia mulai memuntahkan istilah sosiologi, efisiensi program, dan target pemberdayaan.

Pak Karyo terus mengangguk tersenyum. Berdiri di belakang Bima, aku tahu pasti pria tua itu tidak mengerti satu patah kata pun. Ia hanya mengangguk karena Bima memakai kemeja yang bersih.

Setelah seremonial kosong itu usai, Pak Karyo mengantar kami ke posko—sebuah rumah limasan tua pinjaman yang terletak agak jauh dari jalan utama, terkepung kebun singkong liar.

Lihat selengkapnya