Tidak ada orang pesisir yang pernah benar-benar siap menerima sisa duka dari samudra. Mereka tahu aturan tak tertulisnya. Laut memang memberi penghidupan, tapi ia juga sewaktu-waktu berhak meminta kembali apa yang telah ia berikan. Pak RT pernah bercerita kepadaku di warung Bu Anik bahwa malam hilangnya Kasman bukanlah badai pesisir biasa. Malam itu, lautan seolah sedang mengambil paksa haknya dari warga desa.
Di buku catatanku, kurekam persis penuturan Kang Maman yang disampaikannya dengan mata berkaca-kaca. Sore itu, sebelum langit menjelma sepekat aspal cair, ia mengaku sudah mencium bau darah di udara. Kang Maman, kawan melaut Kasman, memiliki kulit setebal kayu jati dan insting yang selalu siaga. Ia bukan warga asli Sadranan, melainkan pendatang dari Sukabumi sejak lima tahun silam.
Saat angin mulai berembus membawa aroma tajam mirip karat besi, ia buru-buru memutar kemudi perahu. Ia berteriak memanggil Kasman yang berjarak beberapa ratus meter di depan. Kasman tak menoleh. Lelaki keras kepala itu terus membelah ombak, melaju ke arah garis hitam di tengah lautan.
Dari rentetan cerita warga, aku bisa membayangkan bagaimana badai menghantam Sadranan malam itu tanpa peringatan susulan. Listrik padam total pada jam pertama. Suara angin terdengar laksana ribuan peluit yang ditiup paksa di dekat gendang telinga. Air hujan tidak jatuh dari atas, melainkan menyapu miring bagai kerikil tajam yang dilemparkan bertubi-tubi ke dinding anyaman bambu. Anjing-anjing liar berlindung di kolong balai dusun, melolong pelan dalam ketakutan.
Dari yang Mbok Inah ceritakan kelak, malam itu ia sengaja tidak menyalakan lampu teplok. Baginya, cahaya hanya akan mempertegas teror. Ia meringkuk di atas dipan, mendekap kepala Surya dan Bulan kuat-kuat ke dadanya. Bau tanah basah menggenang naik dari lantai. Setiap kilat menyambar, kegelapan ruangan robek selama sepersekian detik, mengekspos wajahnya yang pucat pasi. Bibirnya bergerak cepat tanpa suara, memohon entah pada entitas apa pun di atas sana untuk melepaskan suaminya dari rahang samudra. Namun, deru ombak di luar terlalu keras. Doanya tenggelam.