Sang Surya dan Doa Yang Tertinggal di Laut

Oktonawa
Chapter #5

Warung Bu Anik #5

Malam turun menutupi Sadranan dengan cara yang tak biasa. Di kota, malam adalah sekadar pergantian warna langit yang diiringi deretan lampu dan bising kendaraan. Malam di dusun ini selalu turun dengan senyap yang pekat. Saat pandangan terhalang gulita, deru ombak yang siangnya terabaikan kini mengambil alih, terdengar lebih nyaring memukul karang tanpa henti.

Aku duduk di teras posko, menatap kegelapan pekat di luar pagar. Di dalam ruangan, perdebatan berlangsung sengit. Suara Bima dan Danar saling bertabrakan, menciptakan polusi suara yang membuat kepalaku berdenyut.

"Pokoknya program penyuluhan sanitasi besok harus pakai proyektor, Bim!" seru Danar. Nadanya meninggi, berbalut frustrasi karena seharian tak mendapat sinyal internet. "Kita ini mahasiswa kota. Harus kelihatan profesional di depan warga. Masa pakai karton gambar tangan?"

Bima membalas tak kalah keras. "Bensin buat gensetnya bagaimana? Anggaran operasional kita terbatas. Kita tidak bisa menghamburkan dana desa hanya untuk pamer presentasi PowerPoint yang warganya pun belum tentu mengerti."

Mereka meributkan bungkus, bukan isi. Beberapa ratus meter dari titik kami berdebat, ada seorang anak kecil yang baru saja mempertaruhkan separuh kewarasannya di atas batu karang hitam. Otakku menolak mencerna argumen mereka. Bayangan punggung kurus Surya yang diterpa angin senja terus berputar di kepala, menuntut penjelasan yang mustahil kutemukan dalam buku panduan KKN.

Aku bangkit berdiri. Tanpa pamit pada dua temanku yang masih meributkan bensin, aku melangkah keluar.

Tujuanku hanya satu: sebuah bangunan kayu sederhana yang berpendar kuning di ujung jalan setapak, tak jauh dari persimpangan desa. Warung Bu Anik.

Warung itu adalah muara malam hari di Sadranan. Saat pintu-pintu rumah warga tertutup rapat selepas isya, tempat inilah yang menjadi detak jantungnya. Bangunannya terbuat dari papan kayu meranti tanpa cat, beratap seng karatan, dengan penerangan utama dua bohlam lima watt yang digantung seadanya. Di sinilah wadah informasi berpusat. Segala macam kabar, mulai dari harga tengkulak ikan, gosip perselingkuhan, hingga mitos penjaga laut, disaring di atas lincak bambu panjang di depan etalase.

Saat aku tiba, suasana tidak terlalu ramai. Bu Anik, wanita paruh baya berdaster pudar dengan rambut diikat asal, sedang membersihkan gelas di balik meja. Di lincak depan, duduk seorang pria tua mengenakan peci hitam miring dan sarung kotak-kotak yang digulung sebatas lutut. Ia adalah Pak RT. Mantan nelayan bertubuh liat yang kini dipaksa menyerah pada daratan akibat asam urat yang menggerogoti persendiannya.

Aku memesan semangkuk mi instan rebus dan segelas wedang jahe panas, lalu mengambil tempat duduk di lincak bambu, menyisakan jarak sekitar satu meter dari Pak RT.

"Sendirian saja, Mas Zuhal?" sapanya dengan logat Jawa yang kental. Suaranya serak dan dalam—ciri khas paru-paru yang puluhan tahun diasapi tembakau dan udara laut.

"Iya, Pak. Cari angin," jawabku beralasan.

Pak RT tersenyum kecil. Ia memegang sebatang rokok kretek yang separuhnya telah menjadi abu. Asap putih tipis mengepul dari sela jemarinya yang kasar dan dipenuhi bintik penuaan. Ia tidak mengejar kelanjutan jawabanku. Di desa ini, orang tahu kapan harus bicara dan kapan harus membiarkan keheningan mengambil alih.

Bu Anik mengangsurkan mangkuk mi instanku yang mengepul, disusul gelas beling berisi wedang jahe yang aromanya langsung menusuk hidung. Aku tidak langsung memakannya. Tanganku hanya menggenggam gelas hangat itu, mencari keberanian untuk bertanya. Aku sadar pertanyaanku ini mungkin terlalu mencampuri urusan warga—sesuatu yang selalu ditentang keras oleh Bima demi laporannya. Namun, rasa ingin tahuku sudah tak terbendung.

Lihat selengkapnya