Sebelum KKN ini bermula, gawai di genggaman Danar seolah lintah yang menempel permanen pada nadinya. Ia tak pernah sudi melepaskannya. Di meja makan, di hadapan dosen pembimbing, hingga saat membelah koridor kampus, wajahnya abadi tertunduk, dihipnotis pendar biru layar kaca.
Namun, di Sadranan, gawai belasan juta itu tak lebih dari sekeping pajangan tanpa fungsi. Ketiadaan sinyal membuat Danar uring-uringan. Ia tampak gelisah, mondar-mandir menatap layar kosongnya layaknya orang yang mendadak kehilangan arah. Berhari-hari ia meracau, mengukur luas ruang tengah posko yang menguarkan pesing kapur barus, mengangkat gawainya tinggi-tinggi bak memuja berhala, memaki satelit nirdaya yang gagal menembus benteng karst pembatas desa.
Waktu itu, aku dan Bima hanya menganggap ulahnya sebagai lelucon garing. Kami salah besar. Bertahun-tahun kemudian, di tengah kepungan asap dan bising mesin giling sebuah kedai kopi di Jakarta Pusat, Danar akhirnya meruntuhkan pertahanannya. Sambil mengaduk americano yang menubruk dingin, ia menatap nanar ke balik jendela kaca, lalu menelanjangi masa lalunya di depanku. Hari itu aku tersadar, gawai di tangannya bukanlah medium pengusir sepi, melainkan perisai. Barikade yang ia bangun untuk bersembunyi dari cengkeraman keluarganya sendiri.
Minggu pertama di Sadranan, di bawah terik matahari yang menyengat tajam, Danar menyelinap keluar dari posko. Rasa frustrasi karena berhari-hari terisolasi tanpa sinyal mulai menggerogoti kesabarannya. Ia campakkan sendal jepitnya, beralih pada sepasang sneakers puluhan juta, lalu mengayun langkah membelah sunyi, mendaki bukit karst di punggung balai desa.
Bukit itu menolak dijamah. Permukaannya dilahap batuan gamping putih, setajam rahang hiu. Semak berduri meranggas liar, siap merobek kulit. Namun, Danar merangsek naik. Sepatu mahalnya baret dan kusam dikuliti debu kapur. Peluh membanjiri kaus, menetes perih, menyengat sudut matanya. Deru napasnya yang koyak ia abaikan. Ia butuh ketinggian. Ia butuh merobek blokade sinyal keparat ini.
Nyaris sejam merangkak naik, ia tiba di punggung bukit yang telanjang. Angin garam langsung menampar wajahnya. Dari titik nadir itu, lanskap Sadranan terhampar tak berdaya. Atap-atap seng warga menyusut layaknya kotak korek api. Di kejauhan, Samudra Hindia membentangkan karpet biru pekatnya, menjilat garis cakrawala.
Danar merogoh saku denimnya. Mengeluarkan benda itu. Layar berpendar. Tanda silang merah berkedip ragu, lalu bermutasi. Satu balok sinyal merangkak naik. Disusul huruf ajaib pembawa nyawa: 4G. Danar tersenyum lega. Ia akhirnya kembali terhubung dengan dunia luar.
Detik berikutnya, gawai itu kesurupan. Getarannya panjang, konstan, menyengat telapak tangannya. Bunyi notifikasi bertalu-talu membombardir gendang telinga. Ratusan pesan merangsek masuk, berdesakan menuntut ruang di layar sempitnya.
Danar mengempaskan tubuh di atas sebongkah batu gamping. Paru-parunya masih berebut oksigen. Ia membuka aplikasi pesan. Telunjuknya yang berlepotan debu menekan ragu sebuah grup obrolan, sebuah ruang virtual yang selamanya dipaku di baris teratas. Nama grup itu: Keluarga Utama.
Nihil ucapan rindu di sana. Tidak ada yang peduli apakah Danar menelan nasi layak atau singkong basi di desa plosok ini. Alih-alih cemas akan kesehatannya, rentetan kalimat ayahnya yang dikirim beberapa hari lalu justru menyambut bagai algojo:
Danar, kamu sudah sampai di lokasi KKN? Jangan alasan susah sinyal. Bapak sudah cek portal akademikmu. Nilai Metodologi Penelitian-mu cuma B. Kenapa bisa turun? Kamu mau lulus berapa tahun? Mas Boni seumurmu dulu sudah mulai magang di kementerian. Jangan main gawai terus. KKN yang benar biar nilainya A.
Danar membaca pesan itu satu per satu. Meski matahari bersinar terik di atas bukit, rasa dingin pelan-pelan menjalar di perutnya, membuat napasnya terasa berat.