Bau pengap ruangan ini masih begitu kentara, meski aku sudah beberapa hari tinggal di sini. Aku berada di sebuah tempat yang cukup besar dengan dominasi warna biru dan putih. Di tempat ini aku berlindung dari teriknya panas matahari dan derasnya air hujan untuk sementara waktu. Banyak orang menyebut tempat ini dengan nama penampungan.
Siapa pun perempuan yang telah mengisi formulir pendaftaran sebagai pekerja migran akan singgah di sini terlebih dahulu untuk menjalani pelatihan dan menunggu kontrak kerja sebelum benar-benar bisa berangkat bekerja ke luar negeri.
Aku menjadi salah satu diantara banyak perempuan yang menjadi calon pekerja migran.
Aku duduk di sudut kasur dengan lutut yang aku tekuk ke dada, hanya terdiam. Rasanya sepi, padahal di sekelilingku masih banyak perempuan-perempuan lain yang masih terjaga. Beberapa memang sudah tertidur pulas, tapi yang lain masih ada yang berbisik-bisik lirih dalam bahasa yang tidak begitu aku pahami.
Kipas angin yang menempel di langit plafon berputar pelan. Lampunya berwarna kuning remang-remang. Sesekali terdengar suara kendaraan lewat dari balik ruangan.
Mataku masih sukar untuk terpejam. Padahal sejak pagi aku banyak mengikuti kelas pelatihan hingga sore. Tapi, tetap saja aku masih enggan terlelap. Aku bahkan tidak tahu jam berapa sekarang.