Sangkar Sang Puan

Tya Fitria
Chapter #2

Sebelum Fajar Tiba

Hawa dingin menyelinap masuk melalui celah ventilasi, detik jarum jam berbunyi nyaring tanpa distraksi. Waktu yang tepat untuk menarik rapat selimut dan melanjutkan malam dengan damai. Tapi, itu hanya untuk orang lain, tidak dengan diriku. Peraturan di sini sangat ketat, meskipun tidak pernah tertulis secara resmi. 

Aku selalu terbangun sebelum aku benar-benar ingin terjaga. Bukan karena alarm. Bukan juga karena adzan subuh yang belum berkumandang dari surau di ujung gang karena malam masih panjang. Aku selalu terbangun karena suara derit pintu tua yang bergesekan dengan ubin tegel. Bunyinya nyaring, yang membuatku segera kembali dari alam mimpi. Bunyi itu adalah tanda bahwa hari akan segera dimulai. Tidak ada kesempatan untukku menunda bangun walau hanya sekedar lima menit.

Suara pintu itu kemudian akan dibarengi suara langkah kaki seseorang. Langkah itu semakin mendekat ke arahku dan aku sudah tahu pasti siapa pemiliknya. Aku juga sudah tahu apa yang akan dilakukannya dan yang akan terjadi selanjutnya. Meski begitu, aku tetap memejamkan mata, bukan karena ingin mengingkari, hanya saja ingin memberi diri waktu sedetik lebih lama sebelum harus menuntaskan tanggung jawab.

Guncangan itu datang, tidak keras, namun terasa penuh tuntutan.

“Gendhis cepat bangun. Ayo, bantuin Ibu.”

Ibu menarik tubuhku hingga terduduk, memaksa bangun untuk memulai hari. Tidak ada kata kesiangan, apalagi terlambat dalam hidup Ibu. Mataku perlahan mengerjap, meskipun rasa kantuk masih menggantung di kelopak mata, seperti embun yang enggan untuk jatuh. Aku hampir saja merebahkan diriku lagi di atas kasur kapuk sebelum tangan Ibu dengan cepat menahan tubuhku.

“Gendhis! Cepetan bangun, udah siang. Ibu tunggu di belakang.”

Langkah kaki Ibu terdengar menjauh, ia berlalu meninggalkan kamar. Sekuat tenaga aku berusaha untuk bangun dari atas kasur. Aku berhenti sejenak, menatap bayangan diriku di cermin yang menempel pada lemari kayu tua. Sosok dengan rambut kusut dan mata yang belum sepenuhnya terbuka nampak jelas terlihat. Di luar ventilasi, langit masih hitam. Tidak ada sedikitpun celah cahaya yang datang.

Aku melirik jam dinding.

Lihat selengkapnya