Sangkar Sang Puan

Tya Fitria
Chapter #3

Yang Terakhir Makan

Tikar sudah aku gelar di ruang tengah. Setelah aku membereskan kasur lantai tipis untuk Bapak tidur. Aku harus menyapu lantainya dan mengelar tikar. Meski sudah lusuh dan sobek di beberapa bagian, tapi tikar ini masih mampu menjalankan tugasnya. 

Aku bolak balik dari ruang tengah ke dapur untuk membawa menu sarapan sederhana. Satu bakul nasi putih hangat aku bawa bersama dengan tumis bunga pepaya dan tempe goreng. Tak lupa, aku membawa seceret air putih dan empat buah piring, sendok, serta gelas. Aku melakukannya setiap hari seorang diri. 

Saat aku sibuk menata sarapan, Ibu menyusul dari dapur. Berjalan dengan langkah pelan dan dua tangan yang tak pernah menganggur. Tangan kirinya bekerja untuk membawa segelas teh tawar panas, sedangkan di tangan kanannya ada secangkir kopi dengan asap yang tak kalah mengepulnya. Aromanya memenuhi ruangan sempit ini, aroma harum teh yang dibarengi dengan aroma pahit kopi saling berpadu menghangatkan suasana layaknya sebuah rumah. Namun, tidak semua rumah bisa menjadi tempat yang hangat bagi penghuninya.

Ibu meletakan teh dan kopi itu di tempat biasa. Tempat yang kepmilikannya tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun. Ibu lantas berjalan ke teras, tak lama Ibu masuk lagi diikuti Bapak di belakangnya. Bapak langsung duduk di tempatnya. Sedangkan, Ibu masih belum tuntas menyelesaikan tugasnya.

Ibu mengetuk pintu kamar Mas Marno pelan. Tidak mendapatkan jawaban, Ibu memilih langsung membukanya pelan agar orang yang ada di dalam tidak bangun karena terkejut. Celah pintu yang tidak ditutup oleh Ibu, membuatku bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Ibu memegang bahu Mas Marno dan menepuknya pelan. Terdengar suara orang melenguh. Ibu terus menepuknya dengan sabar.

“No, bangun dulu. Sarapan, nanti bisa lanjut tidur lagi.”

“Hm.”

“Ayo cepetan, kopimu udah siap itu keburu dingin nanti.”

Mas Marno keluar dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, rambut acak-acakan, dan beberapa kali terus menguap. Ibu belum keluar, dia masih di dalam kamar Mas Marno untuk merapikan tempat tidurnya. 

Mas Marno langsung meyusul Bapak yang sudah menyantap sarapan pagi ini dengan lahap. Aku belum mengambil nasi. Aku membiarkan Mas Marno mengambil sarapan lebih dulu, dia mengambil dua setengah centong nasi dengan tumis dan dua tempe goreng. Aku mengambil milikku, tak banyak hanya sekedar untuk aku merasa cukup menjalani hari.

Aku mengurungkan satu sendok makanan yang tinggal aku lahap. Aku menghela nafas panjang, kembali menatap ke dalam kamar Mas Marno.

“Bu, sarapan dulu. Takut makanannya dingin.”

“Iya. Sebentar, Ndhis.”

Ibu duduk di tengah antara aku dan Mas Marno. Ibu langsung mengambil sisa nasi dan lauk yang ada di depannya. Ibu selalu menjadi orang yang terakhir sarapan, tapi Ibu juga selalu menjadi orang yang paling cepat selesai karena piring Ibu isinya paling sedikit. Keberadaanya seolah hanya untuk memastikan bahwa semua orang sudah terurus, terlayani, dan terpenuhi kebutuhannya. Ibu tidak pernah ditakdirkan untuk duduk dan menikmati hasil kerja kerasnya sendiri. Akan selalu ada hal yang mengsuik Ibu dan membuatnya tidak pernah berhentik kerja, kecuali saat terlelap.

Lihat selengkapnya