Sangkar Sang Puan

Tya Fitria
Chapter #4

Isi Kaleng Bekas

Udara pagi terasa begitu menyegarkan. Embun-embun menetes dengan lembut membasahi daun-daun yang ada di sepanjang desa. Aku berjalan menyusuri jalan kecil desa untuk sampai di jalan besar. Aku tidak jalan sendiri, ada beberapa anak desa yang jalan membersamaiku ke jalan besar sebelum mereka naik angkot ke sekolah. 

Di sepanjang jalan desa, aku selalu tersenyum setiap berpapasan dengan para tetangga. Pagi hari, suasana desa akan sangat ramai, Ibu-Ibu sudah sibuk belanja sayur sambil mengendong anak balitanya, sementara suami mereka masih duduk santai menikmati kopi hangat sebelum mereka berangkat ke sawah. 

Tahun lalu, tidak jauh dari rumahku, diresmikan sebuah pabrik garmen. Jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah dan tahun lalu juga, aku mencoba peruntunganku melamar kerja di sana. Tanpa aku sangka, sudah hampir satu tahun aku bekerja di pabrik garmen. 

Halaman pabrik sudah ramai, ada laki-laki yang mengantarkan istri ataupun anak perempuannya bekerja di pabrik dengan motor. Aku bergabung dengan mereka yang baru datang. Kami saling sapa dan tersenyum hangat. Kami berjalan bersama sebagai sesama buruh perempuan yang mengantungkan kehidupan kepada pabrik garmen.

Sejak kecil, aku sudah terbiasa untuk menjahit. Ibu mengajarkanku sekali untuk menjahit, setelah itu setiap ada baju dan celana yang sobek, Ibu selalu memintaku untuk menjahitnya kembali agar tetap bisa digunakan. Aku menjadi lebih senang bermain dengan jarum dan benang daripada dengan boneka karena sebenarnya aku sendiri pun tidak pernah memiliki boneka. 

Aku sering berlatih menjahit sendiri dengan menyatukan sisa-sisa kain bekas. Meskipun, tidak pernah dianggap serius dalam menjahit, tapi ternyata ketika aku dewasa, keterampilanku menjahit telah membuka sebuah pintu untukku. Mungkin tidak banyak untuk orang lain, tapi untuk aku, penghasilan beberapa ratus ribu yang aku terima setiap bulan adalah sebuah harapan besar untuk mimpi yang selama ini aku simpan sendiri. 

Hari ini, aku bekerja di pabrik seperti biasa. Tidak ada yang berbeda, tanganku sibuk memotong kain sesuai pola yang sudah ditentukan, aku juga harus menomori setiap potongan kain, dan mengelempokkannya berdasarkan warna dan ukuran. Pekerjaan ini memang susuatu yang berulang, tapi dalam setiap pengulangannya, aku bisa merasakan sebuah ketenangan. Di sini tidak ada yang memintaku untuk segera menyelesaikan pekerjaan agar bisa mengerjakan tugas berikutnya. Di sini, aku bebas mengatur waktuku untuk menyelesaikan kapan pun pekerjaanku asalkan tidak melebihi tenggat waktu yang telah ditentukan dan di sini waktu menjadi miliku sendiri, meski hanya untuk delapan jam.

Setengah hari telah berlalu, rekan-rekanku satu per satu meninggalkan stasiun kerja mereka untuk istirahat dan makan siang. Di depan kantin pabrik, aku bertemu dengan Tami, rekan satu desaku yang juga bekerja di pabrik. Hanya saja, Tami bekerja di bagian gudang kain. 

“Kamu mau pulang lagi, Ndhis?”

“Iya, Tam. Aku mau makan di rumah aja.”

“Oh iya, Pak Jati tadi nyariin kamu, soalnya kain-kain sisa udah numpuk di gudang.”

Sebelum pulang, aku pergi ke gudang kain menemui kepala gudang, Pak Jati. Ada beberapa karung sedang yang berisi kain-kain sisa. Pak Jati, lantas memberiku kresek besar agar memudahkanku untuk membawanya pulang ke rumah.

“Nanti biasa ya, Pak. Potong dari gaji saya.”

“Iya, ndhis. Kamu mau ambil satu karung atau semuanya?”

Lihat selengkapnya