Sangkar Sang Puan

Tya Fitria
Chapter #5

Katanya Pamali

Aku baru saja kembali ke stasiun kerja setelah aku pergi ke kamar mandi. Aku berencana untuk membereskan barang-barangku karena jam kerja untuk shift pagi sudah berakhir sejak 15 menit yang lalu. Aku hanya mematung kebingungan saat melihat tumpukan kain yang jumlahnya lebih dari seribu ada di stasiun kerjaku dan tergeletak dengan rapi. Aku masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Sekitar satu jam yang lalu, semua tumpukan kain ini sudah aku bawa ke ruang produksi untuk diproses ke tahap selanjutnya. Hari ini, aku menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat dari biasanya karena kainnya hanya berjumlah satuan ribu. Lalu kenapa semua kain ini dikembalikan lagi ke stasiun kerjaku?

Aku melihat sekelilingku, pekerja shift sore sudah mulai masuk untuk bekerja. Saat aku tanya tentang kain yang dikembalikan ini pun, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku hendak pergi ke ruang produksi untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Di tengah jalan aku bertemu manajer produksi, Bu Yanti yang ternyata hendak menemuiku. Aku dan Bu Yanti sama-sama berjalan ke stasiun kerjaku.

“Kamu lihat ini, Ndhis. Coba kamu perhatikan baik-baik.”

Aku mengikuti perintah Bu Yanti. Dengan seksama aku memperhatikan kain-kain yang di depanku. Tapi, aku masih tidak mengerti apa yang salah dengan pekerjaanku. Bu Yanti akhirnya menjelaskan karena aku terlalu lama untuk menyadari kesalahanku sendiri.

“Ini loh, Ndhis. Masa iya ukuran 48 buat ukuran M, terus ini ukuran 39 buat ukuran XL.”

Aku mengamati dengan lebih teliti antara ukuran kain yang aku potong dengan label ukuran yang aku tempel dan ya sudah jelas, aku melakukan kesalahan.

“Kamu harus selesain malem ini ya, Ndhis biar jadwal produksi enggak terlalu mundur. Tempel sesuai ukuran yang benar.”

Aku mengangguk dan langsung bersiap untuk memperbaiki kesalahanku. Untung saja itu bukan kesalahan yang fatal seperti salah memotong kain karena jika itu terjadi bisa menyebabkan kerugian bagi pabrik yang nantinya akan berimbas dengan upah yang akan aku terima. Tapi, sekecil apapun kesalahanku tetap harus segera diperbaiki karena jika tidak aku akan mengacaukan jadwal produksi dan bisa-bisa pabrik terlambat mengirim pakaian ke distributor. 

Sebenarnya, aku masih tidak mengerti dengan kesalahanku sendiri dan bagaimana bisa aku melakukan kesalahan ini setelah mengerjakan pekerjaan yang sama setiap hari. Aku masih kebingungan dan terus mengecek kain-kain di depanku. Aku merasa telah melakukan tugasku dengan benar, tapi berkali-kali aku mengecek tidak ada yang bisa merubah fakta jika pekerjaanku hari ini memang tidak sesuai.

Lihat selengkapnya