Aku masih sibuk membereskan sisa sarapan di ruang tengah dan Ibu juga sudah mondar-mandir dari dapur ke depan untuk menyiapkan dagangan. Ibu kemudian masuk ke kamar. Dari tempatku saat ini, aku bisa melihat Ibu sedang berdiri di depan cermin sambil menyanggul rambutnya yang sebagian sudah memulai memutih. Tak butuh waktu lama, hanya beberapa detik saja untuk Ibu berdiri di depan cermin. Begitu rambutnya sudah tertata rapi, ia langsung bergegas pergi berjualan. Tidak ada waktu untuk Ibu bercermin sembari melihat diri karena ketika mata Ibu sudah terjaga maka ia tidak akan berhenti bekerja.
Semua pekerjaan rumah di pagi hari sudah aku selesaikan. Aku harus segera melanjutkan pekerjaanku di pabrik. Aku tidak boleh lengah dan ceroboh lagi karena semua itu justru akan merugikan diriku sendiri. Kain-kain yang harus aku potong dan pasangi label ukuran telah rampung. Aku benar-benar memastikan tidak ada kesalahan yang aku lakukan dengan pekerjaanku. Aku mendorong troli besar berisi kain ke ruang produksi, aku sengaja menunggu hingga Bu Yanti memeriksanya dan memastikan tidak ada kesalahan lagi.
Selepas semua pekerjaanku aman, aku pun belum bisa langsung pulang. Meskipun, waktu sudah menjelang Maghrib, aku memilih untuk menunggu di depan pabrik. Hujan besar menyambutku begitu keluar pabrik. Beberapa rekan yang keluar bersamaku, satu per satu berpamitan. Mereka berlari di bawah hujan menuju angkot yang sudah menunggu di depan pabrik, sementara yang lain berlari untuk menemui seseorang yang telah setia menunggu mereka pulang setiap hari.
Tersisa aku seorang diri. Aku tidak bisa menerobos hujan seperti yang lain karena tidak ada atap ataupun penutup yang bisa melindungi aku dari derasnya hujan. Awan semakin gelap dan angin bertiup semakin kencang. Aku mengeluarkan payung yang selalu aku simpan di dalam tas sejak musim hujan tiba. Aku mengangkat tas ranselku di atas kepala dan nekat berjalan pulang, meskipun hujan masih cukup deras. Aku tidak ingin pulang terlalu larut jika harus menunggu hujan reda.
Aku sampai di rumah, sudah pasti dengan baju dan celana yang basah kuyup. Usahaku untuk menutupi kepala dengan tas pun, rasanya menjadi sia-sia. Kulitku berubah pucat dan tubuhku menjadi agak menggigil kedinginan. Aku melihat sepeda mini Ibu sudah terparkir di depan rumah, tapi tidak dengan sepeda Bapak dan motor Mas Marno.
Aku masuk ke rumah. Ada yang terasa berbeda, bukan suasana rumahnya, tapi lantainya. Kaki-ku yang terendam oleh air hingga mata kaki. dan anehnya kakinya terasa tergenang oleh air meski sudah ada di dalam rumah.
Aku terdiam kebingungan. Aku sudah di rumah bagaimana mungkin, kaki-ku bisa terendam air.
Aku menatap ke atas. Tetesan air ada di mana-mana. Aku masuk ke ruang tengah dan melihat Ibu yang sibuk mengeluarkan ember dan semua perkakas dari dapur yang bisa digunakan untuk menadah air hujan. Semua ubin rumah basah karena air hujan tanpa ada yang tersisa.
“Bantuin Ibu ya, ndhis.”
“Iya, Bu.”
Aku langsung bergegas ke dapur untuk mengambil kain pel. Rasa dingin yang tadi menyergap tubuhku tak lagi aku hiraukan karena aku harus segera membantu Ibu atau rumah ini akan semakin basah.