Sangkar Sang Puan

Tya Fitria
Chapter #7

Hidupnya sebuah Harapan

Lemari kayu yang ada di kamar aku dan Ibu bukanlah sembarang lemari. Tubuhnya kokoh, tanpa sedikit pun melapuk karena semua bagiannya berasal dari jati terbaik. Usianya bahkan sudah jauh lebih tua dariku. Lemari ini sangat indah. Pintu pada sisi kanan dipenuhi dengan ukiran. Meski hanya berwarna kayu tapi, aku bisa merasakan betapa cantiknya ukiran seekor burung yang terus mengepakkan kedua sayapnya, seolah sedang menikmati kebebasan. 

Terkadang, aku berdiam cukup lama hanya untuk memandangi keindahan ukiran kayu itu. Sementara, pintu sisi lemari tidak terlalu istimewa seperti sebelahnya. Pintu bagian kiri hanya dipasangi kaca besar tanpa ukiran. Kacanya pun kini telah kusam dan di beberapa sudutnya muncul retakan-retakan kecil.

Lemari ini bukan lemari biasa. Lemari ini menjadi satu-satunya peninggalan dari kakek yang bisa dimanfaatkan keberadaanya oleh Ibu sampai hari ini dan mungkin saja, lemari ini juga menjadi satu-satunya barang berharga yang ada di rumah ini. Fungsinya memang sederhana hanya untuk menyimpan baju. Tapi, keberadaan lemari ini tidak hanya berarti bagi Ibu, tapi juga untukku karena hanya di dalam lemari ini, aku bisa menyimpan sebuah harapan agar tetap hidup tanpa pernah takut kehilangannya.

Seperti saat ini, aku hanya sedang duduk di lantai sambil menatap ukiran burung terbang di pintu lemari. Jari jemariku menyentuh setiap lekuk ukiran kayu, mengagumi setiap keindahannya yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku sibuk dengan pikiranku, tanpa ada yang mengganggu karena hanya ada aku seorang diri di rumah. Suasana yang selalu aku nantikan karena sepi ini hadir dengan membawa sebuah harapan. 

Dengan sangat pelan, aku membuka lemari berukiran burung itu. Tumpukan baju-baju tertata rapi di dalamnya, sekilas memang tidak ada yang aneh dengan isi lemari ini. Bagian kanan lemari memang sengaja Ibu khususkan untukku dan bagian sebelahnya adalah tempat bagi Ibu. Di ruang sempit ini, di dalam lemari ini, aku merasa bisa menjadi apapun tanpa merasa takut ada yang akan mengusik. 

Aku memandangi isi lemari itu dari atas sampai bawah. Ada tiga sekat yang bisa aku pakai untuk menyimpan baju. Tentu saja, tidak hanya baju yang ada di sini, tapi juga ada selimut, handuk, dan barang-barangku yang lain. Lebih penting dari itu, di lemari ini juga ada sebuah mimpi yang selama ini aku simpan rapat.

Mataku langsung tertuju pada sekat yang ada di bagian bawah. Khusus di bagian ini, aku tidak terlalu menyimpan banyak barang-barangku. Aku menyisikan banyak ruang dan sengaja hanya menyimpan selimut dan handuk di sekat ketiga. Aku mengeluarkan selimut dan handuk itu, menatap sekat paling bawah lemari yang kini kosong tanpa sisa.

Meskipun terlihat kosong, sebenernya ada harapan besar dibalik kekosongan ini.

Aku tersenyum samar dan jantungku terasa berdegup lebih kencang dari biasanya. Dengan hati-hati aku melepas papan triplek yang menjadi alasa sekat, kemudian aku mengeluarkannya dari lemari. Terlihat di bawah papan itu ada selembar map plastik berwarna biru yang masih tersimpan rapi. Beberapa tahun lalu, aku selalu mencari cara untuk menyimpan mimpiku agar tetap hidup. Caranya hanya ada satu. Aku harus menutupi map ini dengan triplek dan menyamarkannya agar tidak diketahui oleh siapapun.

Aku kembali tersenyum saat memegang map plastik itu.

Aku menyimpan uang dalam map plastik biru yang setiap bulan aku sisihkan sedikit dari upah yang aku terima. Selain itu, di dalam map ini juga tersimpan selembar kertas yang sangat berharga dan berarti untuk diriku. Aku mengeluarkan kertas itu dan kembali menatapnya lama, selembar ijazah yang aku perjuangkan kembali untuk diriku sendiri setelah bekerja di pabrik. Diam-diam, aku selalu menyisihkan uangku demi bisa mendaftar ujian Paket C.

Meskipun hanya ijazah ini memiliki keterangan Paket C, tapi aku tetap merasa bangga dengan apa yang telah aku capai. Aku memang tidak lulus dengan nilai sempurna, tapi aku rasa nilaiku cukup membaggakan, meskipun aku sendiri juga tidak tahu harus membanggakannya kepada siapa.

Lihat selengkapnya