Sangkar Sang Puan

Tya Fitria
Chapter #8

Bukankah Sudah Seharusnya (?)

Hari-hari menjadi terasa lebih berat ketika harus menunggu tanpa kepastian. Aku hanya bisa berharap kalau kabar baik akan datang sebelum jatuh tempo. Dengan hati-hati, aku memberanikan diri bertanya kepada Ibu selepas jualan. 

“Bu, apa uang buat ujian Gendhis udah ada?”

Ibu yang sedang mengeluarkan botol-botol jamu dari dalam kotak langsung berhenti, ia menatapku sendu. Ibu menghela nafas panjang. Dari helaan nafas Ibu, aku bisa mengerti apa yang akan terjadi. 

“Belum ada, Ndhis. Jualan Ibu juga lagi sepi. Masih kurang berapa hari lagi?”

“Lima hari lagi, Bu.”

Ibu kembali terdiam dan melanjutkan untuk mengeluarkan botol-botol jamu tapi, gerakannya sudah tidak secepat sebelumnya. 

“Bu, kalau minggu ini Bapak dapet upah, apa Gendhis masih bisa ikut ujian?”

Ibu kembali terdiam, tapi kali ini ia tidak menatapku. Matanya fokus dengan botol-botol jamu yang ada di depannya.

“Upah Bapakmu minggu ini udah dikasbon minggu lalu, Ndhis.”

Aku diam menunduk, menatap kosong jari-jemariku yang saling bertaut. Aku mengangkat kepala, melihat Ibu yang masih sibuk beberes dan tersenyum.

“Yaudah, Bu. Enggak apa-apa. Masih ada waktu, kalau memang rezeki Gendhis bisa ikut ujian, pasti akan ada jalan.”

Aku berusaha menguatkan diriku sendiri dan juga sedikit meringankan beban pikiran Ibu. Meskipun, saat aku pergi meninggalkan dapur, air mataku mengalir begitu saja.

Tiga hari sebelum jatuh tempo pembayaran uang ujian, aku mendapatkan kabar bahwa Mbak Istari mengirimkan uang. Kata Ibu, jumlahnya hanya 500 ribu. Jumlah itu memang tidak sebanyak kiriman bulanan yang biasanya diberikan Mbak Istari. Namun, bagiku yang terpenting adalah uang kiriman Mbak Istari sudah cukup untuk membayar tunggakan uang sekolah. Aku merasa bersyukur karena masih bisa mengikuti ujian nasional. Tentu saja beban berat di pundakku selama satu minggu ini seketika terasa ringan. Sebelum aku tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Malam hari setelah Ibu menerima kiriman uang dari Mbak Istari untuk membayar uang sekolahku, ternyata, Mas Marno memohon kepada Ibu untuk memberinya uang untuk modal berangkat ke kota. Mas Marno ditawari pekerjaan di bengkel sepeda motor ternama oleh temannya, Tegar. 

“Bu, kata Tegar ini pekerjaan bagus, Bu. Aku kan tahu tentang motor, jadi pasti bisa kerja di bengkel. Terus katanya juga gajinya besar, Bu udah gitu dapet uang makan sama mess karyawan. Marno cuma perlu ongkos buat berangkat aja, Bu. Nanti, pas Marno gajian Marno kirim Ibu uang.”

“Tapi, Mbakmu memang kirim uang lagi, tapi katanya uang itu buat bayar sekolah Adekmu.”

Lihat selengkapnya