Saat aku sampai, acara pembukaan sudah selesai, tapi aku masih belum ketinggalan acara utama. Aku calingak-celinguk ke setiap sudut balai warga. Tidak ada satu kantong pun sembako yang dipersiapkan. Aku berusaha mendengarkan sang pembawa acara dan baru aku ketahui bahwa program yang dimaksud bukanlah program bagi-bagi sembako, melainkan program sosialisasi kepada ibu-ibu desa untuk mengikuti pelatihan keterampilan kerja yang akan mulai rutin digelar mulai bulan depan. Pemerintah kabupaten membuka kelas pelatihan untuk meningkatkan keterampilan ibu-ibu desa untuk mengolah hasil tani agar dapat meningkatkan nilai jual.
Setelah mengetahui bahwa program ini hanya sosialisasi, aku hanya diam dan tidak terlalu menyimak apa yang dikatakan oleh pembicara yang ada di atas mimbar. Sampai pada saat di mana pembicara itu menyebutkan bahwa program ini bertujuan untuk membantu perekonomian rumah tangga sehingga para ibu di desa tidak harus merantau ke luar negeri sebagai pembantu rumah tangga. Ketika aku mendengar hal itu, indra penglihat dan pendengarku menjadi terpanggil. Apalagi, katanya, saat ini pemerintah pusat sedang menerapkan kebijakan moratorium terutama ke wilayah Timur Tengah.
Tanpa sadar, aku menegakkan punggungku yang sejak tadi hanya menempel pada sandara kursi. Entah sejak kapan, aku menjadi merasa tertarik dengan pembicaraan ini, kata-kata itu mengalun solah menarik pikiranku lebih dalam. Sesekali, aku harus menggerakkan badanku ke kanan dan ke kiri agar aku bisa melihat pembicara yang ada di depan dan mendengar apa yang diucapkan dengan jelas. Aku menjadi merasa takut, jika aku akan ketinggalan satu kata dari pembicara di depan.
Pembicara itu turun mimbar, kemudian seorang wanita yang mengenakan rok biru bermotif bunga, kemeja putih polos, dengan kerudung yang berwarna senada dengan roknya terlihat maju ke depan saat namanya dipanggil oleh pembawa acara. Kemudian, ia berdiri di atas mimbar. Aku bisa melihat wajahnya masih terlihat muda, meskipun katanya, usianya sudah lebih dari 40 tahun. Dia kemudian mengenalkan dirinya sebagai Mbak Sarina, ketua kelompok Gema Wanita yang akan memberikan pelatihan kepada ibu-ibu di desa. Mbak Sarina juga mantan pembantu rumah tangga di Arab Saudi selama 10 tahun.
Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku saat mendengar Mbak Sarina mengatakan bahwa selama 10 tahun ia sama sekali tidak diperbolehkan untuk cuti pulang. Baru tahun lalu kontraknya habis dan akhirnya bisa pulang ke kampung halamannya.
Mbak Sarina bercerita tentang ketidaktahuannya saat pertama kali tiba di Arab Saudi. Ia bahkan tidak tahu bahwa kontrak kerja yang ia tandatangani saat di penampungan itu untuk bekerja selama 10 tahun.
“Saya bekerja di sana tanpa istirahat yang cukup. Bahkan, tidak ada hari libur, minggu tetap harus kerja karena bekerja sebagai pembantu, tidak pernah ada selesainya. Gaji yang diterima sama sekali tidak sebanding dengan rasa lelah kita setiap hari.”
Aku bisa mendengar jelas suara Mbak Sarina yang begetar di setiap kata yang terucap. Meski begitu, Mbak Sarina tetap melanjutkan kisahnya ketika menjadi penopang hidup keluarganya di Arab Saudi.
“Gaji yang diterima pun tidak sebesar yang dijanjikan agen di sini. Kalau Ibu-Ibu mau tahu, ada potongan besar dari agen. Dari gaji 4 juta yang dijanjikan agen, hanya 1.900.000 yang sampai di tangan saya. Belum lagi soal gaji yang telat, bisa satu bulan itu sama sekali tidak menerima gaji dan baru dibayar bulan selanjutnya. Gaji kecil, salah sedikit langsung dimarahin majikan, beberapa rekan saya bahkan harus mengalami kekerasaan dan penyiksaan karena kesalahan sepele.”
Aku turut merasakan bagaimana perjuangan Mbak Sarina untuk bertahan di tanah orang dan menahan segala derita dan kerinduan kepada keluarga yang setiap hari membelenggu itu seorang diri, demi agar suami, anak, orang tua, dan adik-adiknya tetap bisa melanjutkan hidup di desa dengan lebih layak.
“Sudah seharusnya saya melakukan semua itu agar pawon di rumah tetap menyala dan anak serta adik-adik saya tetap bisa sekolah. Tidak bodoh seperti saya yang hanya bisa mengadu nasib sebagai pembantu di negeri orang yang jauh.”
“Saya rela melakukan semua itu demi keluarga. Hanya saja, saya sedikit merasa bingung ketika di sana karena tidak ada yang memberi tahu saya cara untuk menjaga dan melindungi diri sendiri.”