Sangkar Sang Puan

Tya Fitria
Chapter #10

Satu Kaleng Beras

Selain untuk menghemat pengeluaran, alasan lain yang membuatku selalu pulang ke rumah ketika istirahat pabrik adalah karena pekerjaan rumah. Ibu selalu bertugas menjemur pakaian pagi hari sebelum berangkat berjualan dan siang harinya ketika aku istirahat di pabrik, aku harus mengangkat semua jemuran itu. Kata Ibu, pakaian menjadi terasa anyep. 

Siang ini, seperti biasanya aku pulang ke rumah berjalan kaki tepat jam 12 siang ketika matahari sedang berada di puncak panas yang menyengat. Ketika memasuki jalanan desa, matahari terasa lebih ramah karena terhalau oleh rindangnya pohon-pohon yang menghiasi sepanjang jalan desa. 

Aku sampai di rumah dan merasa bingung. Ada hal yang tidak biasa terjadi. Aku melihat tali jemuran membentang kosong, semua jemurannya sudah diangkat. Aku menjadi lebih bingung lagi saat melihat sepeda mini Ibu sudah ada di pelataran rumah. 

Pintu rumah pun tidak terkunci, aku masuk ke dalam dan melihat Haira sedang tidur di kasur yang biasa dipakai Bapak. Aku hendak mencari Ibu di dapur, tapi sebelum aku melangkah, suara Ibu sudah terdengar. Ibu keluar dari kamar Mas Marno setelah menaruh baju-bajunya yang sudah Ibu lipat.

“Ada Haira di sini, Bu?”

“Iya, tadi Ibu ketemu Mas Guntur di jalan, katanya mau ke agen Mekar. Mbakmu kirim baju-baju buat Haira. Daripada Haira panas-panasan di jalan jadi Ibu bawa aja pulang suruh tidur siang.”

Penjelasan Ibu belum menjawab semua pertanyaan yang ada di benakku.

“enggak biasanya Ibu jam segini udah di rumah.”

“Allhamdulillah, ndhis. Dagangan jamu Ibu tadi laris diborong sama Ibu-Ibu yang lagi kumpulan di SD. Pas Ibu lewat SD, ada satu yang beli, terus enggaklama banyak Ibu-Ibu yang beli. Jadi, Ibu bisa pulang cepet, Ndhis.”

Aku tersenyum karena bisa melihat Ibu tersenyum senang.

Aku mengambil nasi dan lauk sisa sarapan tadi. Aku makan di ruang tengah sambil menemani Haira yang tertidur pulas. Selasai aku makan, aku tidak langsung beranjak. Aku melihat jam dinding tua itu, masih ada cukup waktu untuk aku menarik nafas sejenak.

Aku menatap Haira dalam. Usianya memang baru 5 tahun, tapi hampir setengah hidupnya, Haira habiskan tanpa ada kehadiran sosok Ibu di sisinya. Aku selalu merasa bersalah ketika melihat Haira karena aku tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah Mbak Istari – Ibu Haira untuk pergi mengadu nasibnya di Arab Saudi.

Sudah hampir tiga tahun berlalu, tapi aku masih ingat semua kejadian pada hari itu.

Hari itu saat aku pulang sekolah, aku masuk lewat pintu dapur. Pintu yang terbuat dari kayu itu sudah terbuka lebar. Aku melihat jelas ada Mbak Istari di dapur, dia sedang berjongkok cukup lama di depan ember tempat Ibu biasanya menyimpan beras. Aku memilih untuk tidak langsung masuk. Aku memilih menunggu di balik dinding kayu, aku hanya diam agar keberadaanku tidak diketahui Mbak Istari. Beberapa kali aku menengok ke dalam, Mbak Istari masih pada posisinya, bahkan aku melihat kepala Mbak Istari terdunduk berpangku pada lututnya. 

Tak lama kemudian, aku melihat Mbak Istari menutup embar beras itu dan berlalu masuk ke dalam rumah. Aku lantas masuk dapur dan segera pergi menuju tempat Mbak Istari berjongkok lama. Aku membuka tutup ember beras itu dan hanya melihat sisa beras yang hanya tinggal satu kaleng. Aku hanya bisa menghela nafas panjang saat mengetahui apa yang sedang menjadi keresahan Mbak Istari.

Melihat aku sudah pulang sekolah, Mbak Istari lantas mengajakku pergi. Ia menitipkan Haira yang masih 2 tahun kepada Ibu. Selama perjalanan naik angkot, aku selalu bertanya pada Mbak Istari kemana kita akan pergi, tapi Mbak Istari hanya memintaku untuk diam dan mengikuti setiap langkah kakinya. Aku pun menurut.

Lihat selengkapnya