Deru suara motor itu kembali terdengar, tapi suara itu amat terasa asing di telinga. Deru motor yang akan selalu dibarengi dengan suara ketukan pintu setelahnya. Ketukan pintu itu pun bukan ketukan biasa, melainkan ketukan yang penuh tuntuan. Biasanya ketukan itu akan terdengar hanya di pagi hari, tapi sudah sejak beberapa hari lalu, suara itu menjadi lebih sering terdengar setiap harinya. Aku mendengar suara itu saat pagi hari sebelum berangkat ke pabrik atau bahkan saat malam ketika semua orang bersiap untuk istirahat.
Sejak pertama kali aku melihat mereka, aku sudah tahu siapa mereka. Hanya saja aku sengaja menutup mata. Ada hal-hal yang lebih baik untuk tidak disebut, tidak dianggap, dan tidak dipikirkan terlalu dalam. Selama aku tidak melihatnya dan selama aku tetap fokus dengan rutinitasku, aku mengira semuanya akan berjalan baik-baik saja. Layaknya suara air hujan yang bocor di setiap sudut-sudut rumah. Aku tahu semua itu nyata terjadi, hanya saja aku memilih untuk tidak melihatnya ke atas.
Ada banyak perubahan yang terjadi di rumah ini, terutama setelah suara ketukan itu semakin sering terdengar. Bukan perubahan pada bangunan rumah, tapi pada orang-orang yang tinggal di dalamnya. Kedatangan mereka membuat raut wajah Ibu menjadi lebih sering terlihat menegang dan semakin sering diam melamun.
Sementara itu, Bapak menjadi lebih rajin dari biasanya. Bapak berangkat lebih pagi ke bengkel sepeda dan pulang lebih larut seolah Bapak tidak ingin tinggal di rumah lebih lama. Mas Marno, dia juga berubah. Tidak berbeda jauh dengan Bapak. Awalnya menang Mas Marno sering keluar rumah, tapi akhir-akhir ini dia menjadi lebih jarang pulang. Bahkan, beberapa kali Mas Marno memilih untuk menginap di rumah temannya seolah sedang menghindari sesuatu.
Sampai tiba lah pada waktu aku tidak bisa lagi menghindari kenyataan ini. Aku kembali melihat mereka datang. Selepas aku pulang dari pabrik, dua orang laki-laki bertubuh besar, bertato, dan selalu memakai baju hitam berdiri di depan rumah dengan raut wajahnya yang menyeramkan. Di depan mereka, aku juga melihat Ibu. Tubuhnya membungkuk, itu adalah gestur Ibu yang selalu dilakukan ketika berbicara dengan siapa pun yang lebih berkuasa. Aku tidak bisa mendengar percakapan Ibu dengan dua laki-laki besar itu. Tapi, aku bisa mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Aku bisa melihat dengan jelas raut wajah Ibu yang sedang memohon belas kasih.
Selepas mereka pergi, aku melangkahkan kaki-ku pelan masuk ke rumah. Tanpa bertanya dan tanpa ditanya apapun. Ibu memilih diam dan aku pun tidak ingin mengusik Ibu yang sepertinya perlu waktu untuk berpikir. Tak sampai tiga jam, suara ketukan keras yang penuh tuntutan itu kembali terdengar.
Di rumah hanya ada aku dan Ibu. Bapak dan Mas Marno masih belum pulang ke rumah. Ibu yang sedang mendengarkan radio di ruang tengah langsung mengecilkan volumenya. Aku berdiri di depan ambang pintu kamar dan mengamati Ibu dari kejauhan. Langkah kaki Ibu terlihat begitu ragu untuk melangkah pergi menemui mereka yang datang. Meskipun berat, tapi kaki tua itu akhirnya tetap berjalan, meskipun sangat pelan untuk menghampiri sumber suara.