Selesai bekerja di pabrik, aku tidak langsung pulang. Aku menunggu seseorang di depan pabrik. Beberapa rekan terlihat keluar, aku senyum menyapa, tapi orang yang aku tunggu tidak kunjung tiba. Aku berniat mencarinya ke bagian belakang pabrik, tempat gudang berada. Tapi, belum sempat aku melangkah, sosok Tami sudah terlihat berjalan dari arah gudang dengan tergopoh-gopoh.
Aku hanya tersenyum melihat Tami. Aku bisa turut merasakan perasaan lelah setelah seharian bekerja di pabrik. Hari ini Tami mengajakku pergi selepas kerja. Tentu saja, terkadang aku memang pergi bersama Tami untuk sekedar melepas penat setelah seharian bekerja. Biasanya, kami akan pergi lapangan desa. Di sana ramai orang, banyak anak-anak bermain dan juga banyak pedagang-pedagang makanan yang mencari peruntungan. Lapangan desa sudah menjadi seperti pasar dan sumber hiburan untuk warga.
Sebenarnya bisa saja, untuk aku dan Tami pergi berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan yang ada di kota. Bahkan, aku dan Tami sangat ingin pergi ke sana setelah menerima upah bulanan. Tapi, aku dan Tami sama-sama merasakan hal yang sama. Ada yang lebih genting untuk diutamakan dari upah yang diterima. Akan ada perasaan tidak nyaman ketika harus mengeluarkan upah dari hasil kerja keras selama satu bulan di pabrik untuk membeli sesuatu di pusat perbelanjaan.
Aku dan Tami bukan hanya sebatas teman kerja, selain karena kita juga bertetangga, Tami adalah teman sekolahku dulu ketika masih sekolah dasar. Hanya saja, aku bisa dikatakan lebih beruntung dari Tami. Aku bisa merasakan mewahnya bangku pendidikan lebih lama dari yang Tami bisa rasakan.
Permasalahan hidupku tidak berbeda jauh dengan Tami. Sama-sama anak yang ingin bersekolah untuk mengapai cita-cita, namun harus terhalang oleh keadaan. Tami gagal menyelesaikan pendidikan menegahnya karena biaya. Dia putus sekolah dan akhirnya memilih membantu orang tuanya bertani sembari kerja serabutan, sebelum akhirnya bisa bekerja di pabrik bagian gudang. Ada dua adik Tami yang masih kecil dan perlu biaya karena itu tidak ada alasan lain bagi Tami untuk mempertahankan keinginannya hingga akhirnya Tami harus memilih untuk berhenti dari bangku sekolah.
Aku masih sedikit beruntung dari Tami karena bisa mengenyam bangku sekolah hingga jenjang SMA.
Meskipun, pada akhirnya aku pun bernasib sama seperti Tami, gagal menyelesaikan sekolah tepat di akhir waktu menjelang kelulusan.
Sore ini ternyata Tami tidak mengajak ke lapangan desa, Tami mengajak aku ke warung bakso langganan kita yang tempatnya tak begitu jauh dari pabrik. Aku dan Tami berjalan bersama menuju warung bakso tendaan itu.
Dua mangkuk bakso dengan kuah yang mengepul tersaji di meja. Aku dan Tami sama-sama langsung meracik bakso, menambahkan saus, kecap, sambal, dan cuka. Aku harus meniup baksonya terlebih dulu sebelum melahapnya. Meskipun, rasa panasnya belum hilang sepenuhnya, tapi aku sudah mulai memakan beberapa butir bakso yang kecil. Tapi, aku melihat Tami yang masih sibuk mengaduk-ngaduk mangkuk baksosnya tanpa satu kali pun ia melahapnya.
Wajah Tami terlihat murung, padahal bakso adalah makanan kesukannya.
“Tam, ada masalah?”
Tami yang sejak tadi hanya menunduk, menatap kosong bakso-baksonya yang ada di mangkuk langsung mengangkat kepalanya dan menatapku sejenak. Tami kemudian kembali fokus pada mangkuk baksonya dan aku melihat dengan samar senyum yang memedihkan.
Aku masih memegang sendok dan garpu di tangan kanan dan kiriku. Aku masih terus menatap Tami seolah aku sedang menunggu jawabannya. Tami menarik nafas panjang dan berusaha tersenyum.
“Ndhis, kamu tau nomor telepon Mbak Istari di Saudi, kan?”
Aku mengangguk, masih belum sepenuhnya mengerti arah pembicaraan Tami.
“Aku minta boleh, kan?”