Sangkar Sang Puan

Tya Fitria
Chapter #13

Dibalik Kata Cinta

Langit belum sepenuhnya berubah warna, ada sebagian sisi yang masih menguning. Waktu sakral akan segera tiba beberapa saat lagi dan untungnya aku sudah sampai di rumah sebelum adzan maghrib berkumandang.

Aku tiba di rumah dan Ibu sedang sibuk menanak nasi dan memasak sayur untuk makan malam. Aku segera membersihkan diri dan lantas kembali ke dapur untuk membantu Ibu. Aku dan Ibu bekerja dalam diam. Tanpa arahan, tanpa berbicara, aku dan Ibu sama-sama sudah mengerti apa yang harus dikerjakan di wilayah kerja kami. 

Aku mengupas bawang, mataku sesekali melihat ke arah Ibu yang sedang mengaron nasi. Sesuatu jelas terasa sangat mengganggu hati dan pikiranku, tapi aku terlalu ragu untuk menanyakannya kepada Ibu. Cerita Tami tentang Mas Tegar dan Kang Dayat, tidak bisa aku enyahkan begitu saja. 

“Bu.”

“Kenapa, Ndhis?”

“Apa orang-orang yang sering datang itu anak buahnya Kang Dayat, Bu?”

Tanyaku yang membuat Ibu seketika berhenti memindahkan beras aron ke dalam dandang. Aku sengaja pura-pura menanyakan hal itu, bukan karena aku tidak tahu siapa mereka. Hanya saja, aku ingin mendengarnya langsung dari Ibu.

“Iya.”

Jawab Ibu singkat. Setelahnya, Ibu kembali melanjutkan menanak nasi, seolah pertanyaanku bukanlah hal besar yang mengusik pikirannya. Aku ingin bertanya lebih dalam, tapi sepertinya hal itu tidak memungkinkan. Aku tidak ingin mendesak Ibu untuk bicara demi meluruhkan semua prasangka burukku. 

“Ibu pinjem uang dari Kang Dayat biar Masmu bisa kerja. Ada temennya yang ngajak Masmu bikin bengkel motor bareng. Dia sediain tempat dan Masmu sediain uang modal buat beli peralatan bengkel.”

Tanpa aku sangka, untuk pertama kalinya Ibu memberikan penjelasan tanpa aku minta. 

“Alat-alat bengkel kan mahal, Bu. Apalagi kan bengkelnya buat motor.”

“Iya, Ndhis. Enggak apa-apa. Masmu kan ada bakat montir, jadi Ibu cuma bantu Masmu biar punya usaha. Apalagi modal usahanya kan separo karena dibagi dua sama temen Masmu itu. Katanya, tempatnya juga udah ada, alat-alat bengkel juga udah dipesen semua, tinggal dikirim. Jadi, katanya paling lambat bulan depan bengkelnya udah buka.”

“Siapa nama temannya Mas Marno, Bu?”

“Siapa ya, aduh Ibu lupa. Tapi, kalau enggak salah, Bahar, Tegar, atau Fajar. Ibu lupa, Ndhis.”

Tubuhku seketika terkulai lemas. Meskipun, Ibu tidak bisa mengingat nama teman Mas Marno dengan jelas. Tapi, dari ketiga nama yang Ibu sebutkan salah satunya sama dengan yang disebutkan oleh Tami. 

Prasangka burukku tentang penipuan yang menimpa Ibu dan Mas Marno seperti yang terjadi pada Bapak Tami, sudah bukan lagi menjadi sebuah prasangka, melainkan kebenaran yang hanya tinggal menunggu waktu terbuka.

Aku melihat tubuh Ibu dari belakang, tubuh tua itu terlihat semakin kurus akhir-akhir ini. Pundaknya yang mengecil itu akan menanggung beban yang semakin besar. Aku tidak ingin membiarkan Ibu terlarut dalam keyakinan palsu itu. Tapi, aku tidak tahu caranya untuk menghilangkan keyakinan itu dari benak Ibu.

Lihat selengkapnya