Barang-barang hasil karya kerajinan kain percaku masih berserakan di lantai kamar. Aku sengaja membuat kerajinan yang lebih banyak dari bulan lalu. Aku juga memperbanyak variasi dari kerajinan tangan ini. Aku harus segera mengepak barang-barang dagangan ini dan mengantarkannya ke toko Ci Merlin. Hari ini adalah jadwalku untuk mengambil hasil jualan barang bulan lalu dan menggantinya dengan yang baru.
Aku tak bisa menyembunyikan senyum tipisku tatkala sedang mengepak kerajinan-kerajinan ini ke dalam plastik besar. Jauh di dalam hatiku, ada harapan besar tentang keberuntungan yang kembali terulang. Aku berharap daganganku bulan lalu akan habis terjual semua seperti bulan sebelumnya. Tapi, jika tidak pun aku sudah cukup menyiapkan ruang untuk rasa kecewa.
“Kamu mau ke pasar, Ndhis?”
Ibu berdiri di depan pintu kamar, menatapku yang sedang sibuk mengepak. Hari ini, Ibu sengaja tidak berjualan dan hari ini juga aku tidak harus bangun terlalu pagi untuk menyiapkan ramuan jamu. Alasan Ibu tidak berjualan sudah pasti bukan karena rasa lelah.
Bagi Ibu, rasa lelah bukan sebuah pembenaran untuk tidak melakukan apa-apa. Hal yang tak terduga terjadi, rempah-rempah yang seharusnya diolah hari ini, aromanya tiba-tiba berubah. Tidak ada lagi aroma harum dan rasa segar dari setiap jenis rempah. Karena itu, Ibu memilih tidak berjualan daripada Ibu harus menjual jamu dengan kualitas yang kurang baik.
“Iya, Bu.”
“Kita berangkat bareng aja. Tunggu sebentar Ibu mau jemur pakaian dulu. ”
“Iya.”
Ibu kemudian berlalu kembali ke dapur. Rasanya begitu berat saat melihat Ibu harus membuang semua rempah-rempah itu tadi malam. Namun, dibalik itu, aku merasa bersyukur karena akhirnya aku bisa melihat Ibu rehat sejenak dari segala tanggung jawab yang selalu menuntut. Meskipun hanya satu hari, aku merasa cukup lega karena Ibu tidak harus mengayuh sepeda mininya puluhan kilometer di bawah terik sinar matahari.
Aku masih sibuk mengemas barang-barang daganganku sambil mencatat nota jualannya. Ekor mataku menangkap bayangan Ibu yang melewati pintu kamar sembari membawa satu ember besar berisi pakaian orang satu rumah yang sudah aku cuci setelah subuh tadi. Aku menunggu Ibu beberapa saat sebelum meninggalkan rumah untuk pergi ke pasar.
Biasanya Ibu akan mengambil semua rempah-rempah untuk jualan di tempat langganan, tepat setelah Ibu selesai berjualan keliling. Beban yang tadinya dipenuhi oleh botol-botol jamu yang terisi penuh akan digantikan dengan beban dari rempah-rempah yang masih penuh dengan tanah.
Ibu baru menyadari kualitas rempah-rempah yang akan diolah hari ini berubah ketika malam hari, makannya Ibu tidak memiliki pilihan lain untuk tidak berjualan. Pagi ini pun, Ibu harus segera ke pasar untuk membeli rempah-rempah untuk bahan membuat jamu besok.
Aku dan Ibu berjalan bersama menyusuri jalanan desa. Rasanya, sudah sangat lama aku tidak berjalan berdua bersama Ibu seperti ini. Tiba di jalan raya, aku dan Ibu masih harus menunggu angkot yang lewat. Waktu tempuh dari rumah ke pasar sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 15 menit. Tapi, karena aku dan Ibu harus menunggu angkot, waktu perjalanan ke pasar bisa mencapai 30 menit.
Cukup lama aku dan Ibu menunggu angkot di pinggir jalan raya dan selama itu pula perjalananku dengan Ibu berlangsung dengan sunyi. Angkot yang kami naiki tidak terlalu ramai, hanya ada enam orang penumpang yang duduk di bagian belakang dan satu orang penumpang di depan. Aku duduk bersebelahan dengan Ibu di dekat pintu angkot, di bagian ujung ada seorang Ibu yang duduk bersama anak perempuannya. Aku melihatnya sekilas, mengangguk, dan tersenyum sekilas. Jika melihat perawakannya, anak perempuan itu masih usia belasan awal yang masih duduk di bangku sekolah menengah.
“Bu, maafin Shila ya karena Shila enggak hati-hati waktu ngelukis di sekolah, jadinya kena ke baju.”
“Udah, enggak apa-apa, Shil. Kan ini kita mau beli seragam lagi.”
“Iya, tapi kalau tadi Shila enggak numpahin cat ke seragam kan Ibu enggak harus keluar uang buat beliin Shila seragam lagi.”
“Kamu ini masih sekolah. Enggak usah mikirin uang, tugas kamu cuma belajar. Ibu akan melakukan semua yang bisa Ibu lakukan asal kamu bisa terus sekolah. Lagian, Ibu enggak keberatan sama sekali harus beliin kamu seragam baru, apalagi pas Ibu lihat lukisan kamu itu bagus banget, Shil.”
Mataku memang fokus menatap sendal jepit lusuh yang aku pakai, tapi kedua telingaku fokus mendengarkan percakapan yang hangat antara seorang Ibu dan anak perempuannya. Aku mengukir senyum tipis di bibir. Aku turut senang mendengar anak perempuan itu bisa terus bersekolah, tanpa harus merasa khawatir tentang biaya.
Angkot yang aku naiki sudah tiba di pangkalan. Satu per satu penumpang turun dari angkot dan berpisah untuk mencapai tujuan masing-masing, termasuk aku dan Ibu. Aku berpisah dengan Ibu di tempat pangkalan angkot. Aku harus pergi ke dekat pintu masuk pasar, sementara Ibu harus pergi ke bagian dalam pasar. Tujuan kami berbeda.