Sangkar Sang Puan

Tya Fitria
Chapter #15

Mimpi yang Dipertaruhkan

Aku pulang dari pasar sambil satu karung rempah-rempah bersama Ibu menyusuri jalanan desa. Ibu membagi bebannya membawa rempah-rempah kepadaku agar tidak terlalu berat. Aku membawa dari sisi kanan dan Ibu dari sisi kiri. 

Motor Mas Marno terparkir di depan rumah. Tidak biasanya jam segini Mas Marno masih di rumah. Pintu rumah pun terbuka lebar, tapi kini aku bisa melihat jelas di depan rumah tidak hanya ada Mas Marno, tapi juga ada Laksmi. Aku tersenyum saat melihat Laksmi datang, sedangkan Ibu terlihat canggung dengan kehadiran Laksmi di rumah. 

Laksmi membawa satu keranjang parsel buah. Dia menyerahkannya pada Ibu yang terlihat ragu untuk menerimanya. Tepukan pelan Mas Marno di bahu Ibu, membuat Ibu langsung menerima parsel pemberian Laksmi. Aku tidak ingin berada dalam kecanggungan ini terlalu lama. Aku segera masuk ke rumah sambil menyeret satu karung rempah-rempah.

Aku tidak kembali ke depan untuk menemani Laksmi. Aku memilih untuk langsung berkutat dengan kain-kain perca dan segera menyiapkan pesanan tas dari Bu Tarsi. Aku tidak ingin menyinyiakan waktu yang tidak banyak ini. Selama aku ada waktu luang, akan aku gunakan untuk mengerjakan pesanan.

***

Apa yang terjadi di pasar ketika sedang menunggu rempah-rempah pesanan Ibu diantar Mas Tarjo, membuatku untuk memilih diam. Aku tidak menceritakan kepada Ibu tentang pesanan tas dari Bu Tarsi. Aku lebih memilih fokus untuk mengerjakan kerajinan tas dari kain perca. Aku tidak ingin mengingkari kepercayaan yang telah diberikan oleh Ci Merlin dan Bu Tarsi. Meskipun itu artinya, waktu istirahatku yang sangat terbatas itu menjadi semakin berkurang.

Akhir-akhir ini paling lama aku hanya tidur tiga jam sehari. Selepas pulang dari pabrik, aku manfaatkan waktu untuk membuat tas hingga tengah malam dan sebelum pukul 3, aku sudah harus kembali terjaga untuk mebantu Ibu membuat jamu.

Berat dan juga terasa lelah.

Namun, dibalik semua itu aku tetapi bisa menikmati setiap prosesnya. Mulai dari menyusun kain, mengatur pola, hingga menjahitnya. Aku tidak merasa terbebani, meskipun aku harus memaksa tubuhku untuk bekerja lebih keras dari biasanya. 

Pesanan 50 tas itu, sebagaian besar sudah aku selesaikan dalam waktu 10 hari. Aku hanya tinggal menjahit manik-manik untuk hiasan tas. Pesanan yang banyak ini, tidak lantas menggugurkan tugasku mengerjakan pekerjaan rumah. Aku tidak bisa mengutamakan satu diantaranya meskipun sebenarnya aku ingin.

Sore ini aku sedang menyapu ruang depan. Sementara Ibu sedang menyapu halaman depan rumah. Terdengar suara standar sepeda yang terparkir. Aku melihat sekilas dari kaca jendela, Bapak baru saja pulang kerja. Suara sapu lidi yang saling bergesekan dengan batu-batu kecil di depan rumah itu seketika menghilang. Ibu meletakan sapu lidinya di depan rumah dan bergegas masuk. 

Hanya beberapa menit berselang, Ibu kembali keluar sembari membawa segelas kopi panas. Ibu menyajikannya untuk Bapak yang sedang istirahat di bangku kayu yang ada di depan. Aku masih terus menyapu sambil sesekali melihat ke depan melalui jendela. Ibu tidak langsung melanjutkan pekerjaannya menyapu halaman, tapi Ibu justru duduk di sebelah Bapak, membuatku merasa penasaran.

Lihat selengkapnya